PERBEDAAN ANTARA KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
Konseling merupakan proses wawancara tatap muka antara dua orang
(konselor dan klien) yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada klien,
sehingga klien dapat memecahkan masalahnya dan lebih berkembang dalam kehidupan
sekarang dan masa depannya. Menurut British Association of counseling (dalam
Mappiare, 2004), konseling merupakan suatu proses bekerja dengan orang banyak,
dalam suatu hubungan yang bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis,
psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah.
Konseling adalah
proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli
(disebut konselor/pembimbing) kepada individu yang mengalami sesuatu
masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi
klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons pada
tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya juga
diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian mengembangkan
pendekatan terapi yang berpusat pada klien (client centered).
Konseling
menurut Richard Nelson-Jones merupakan proses psikologi yang tidak ada bedanya
dengan aktifitas psikoterapi. Dalam hal ini Richard mencoba menjelaskan bahwa
tidak ada bukti yang menjelaskan perbedaan antara aktivitas konseling dengan
proses psikoterapi
Menurut
Galdding, konseling berlangsung dalam jangka waktu yang relative
singkat,bersifat antar pribadi, sesuai dengan teori-teori yang ada, dilakukan
oleh orang yang ahli di bidangnya serta sesuai dengan etika dan aturan-aturan
yang ada yang berpusat pada pemberian bantuan kepada orang-orang yang pada
dasarnya mengalami gangguan psikologis agar orang-orang yang menyimpang dan
mengalami masalah situsional dapat kembali normal.
Sedangkan psikoterapi merupakan interaksi sistematis
klien-terapis memanfaatkan prinsip psikologis, untuk melakukan pengubahan
pikiran, perasaan dan perilaku klien, dengan tujuan membantu klien mengatasi
perilaku abnormal, memecahkan masalah dan atau berkembang sebagai individu.
Menurut
Carl Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi
merupakansuatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini juga digunakan
untuk orang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis
yang penderitaannya menyiksa kita semua.Menurut pendapat Jung ini, bangunan
psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi
preventif (pencegahan), dan konstruktif (pemeliharan dan pengembangan jiwa yang
sehat).
Wolberg
(1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan
suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional.
Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku yang
terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
Sedangkan
menurut Corsini, psikoterapi adalah Proses interaksi formal 2 pihak (2
orang/lebih), bertujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distres)
pada salah 1 pihak karena tidak berfungsinya / ketidakmampuan pada fungsi kognitif,
afeksi atau perilaku, dengan terapis berusaha mengembangkan memelihara atau
mengubahnya dengan menggunakan metode2 sesuai pengetahuan & skill, serta
bersifat profesional & legal.
Dari
definisi psikoterapi di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa psikoterapi adalah
suatu perawatan atau pengobatan terhadap masalah yang sifatnya emosional dengan
tujuan menghilangkan simptom yang dilakukan secara formal dengan interaksi dua
atau lebih pihak agar dapat mengubah perilaku yang negatif menjadi positif.
Menurut
Mappiare (dalam Hartosujono, 2004) ada sejumlah perbedaan psikoterapi dan
konseling dikemukakan sebagai berikut:
1. Konseling merupakan bagian dari
psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebih luas dari pada konseling.
2. Konseling lebih mengarah pada
penyebab atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebih mengarah pada
pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yang mengarah
penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
3. Dasar konseling adalah filsafat
manusia. Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan individual dengan dasar-dasar
psikologi kepribadian dan psikopatologi. Pada perkembangan selanjutnya
konseling juga memanfaatkan perkembangan teori-teori kepribadian dalam konteks
ilmu perilaku.
4. Dijelaskan oleh Narayana Rao
(dalam Hartosujono, 2004) bahwa tujuan antara konseling dan psikoterapi sama,
namun keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya. Psikoterapi mencapainya
dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak. Proses konseling lebih
mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif yang dimiliki klien,
agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.
Konseling
dan Psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk membantu/memberikan
layanan pada individu-individu mengenai permasalahan yang bersifat psikologis.
Dengan kata lain Konseling dan Psikoterapi bertujuan memberikan bantuan kepada
klien untuk suatu perubahan tingkah (behauvioral change), kesehatan mental
positif (positive mental health), pemecahan masalah (problen solution), keefektifan
pribadi (personal effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision making).
Dengan demikian seorang konselor perlu didukung oleh pribadi dan keterampilan
yang dapat menunjang keefektifan konseling.
Pada dasarnya antara konseling dan psikoterapi dalam hal
tujuan sama-sama ingin membantu agar klien dapat menemukan permasalahan untuk
kemudian dapat dipecahkan bersama-sama, namun semua itu hanya dapat terlaksana
dengan baik manakala klien dapat membuka diri dan mau diajak kerjasama.
Perbedaan
konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Pattersone (1973)
Dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983)
|
KONSELING
UNTUK
|
PSIKOTERAPI
UNTUK
|
|
1. Klien
|
1. Pasien
|
|
2. Gangguan yang kurang serius
|
2. Gangguan
yang serius
|
|
3. Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
|
3. Masalah
kepribadian dan pengambilan keputusan
|
|
4. Berhubungan dengan pencegahan
|
4. Berhubungan
dengan penyembuhan
|
|
5. Lingkungan pendidikan dan non medis
|
5. Lingkungan
medis
|
|
6. Berhubungan dengan kesadaran
|
6. Berhubungan
dengan ketidaksadaran
|
|
7. Metode pendidikan
|
7. Metode
penyembuhan
|