Minggu, 31 Maret 2013

tulisan 3


PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN PERSONAL
1.    Penyesuaian Diri
Pengertian Penyesuaian Diri Pengertian Penyesuaian Dirihttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5Mx1i9azVEdOl77dT0mSHgJaxucUxtHd2ih91QLUgOgRZ_fk3K9BXC6hojqEK_OswoZzS6Q8oWqugHz5Tk4UwNzppvj0UJK05uADc3RMtd4I0tKmeiS18jHelHQlBaoyl1qxngrtRfa8/s320/P.jpg
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).
Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSirZadBeNPPAt71_bQMwH9_X117EK4-OxPpttFOmqpF46k3io6SQ
Penyesuaian diri memiliki karakteritistik yang dapat diamati. Karakteristik penyesuaian diri dapat dibedakan menjadi penyesuaian diri positif (normal) dan penyesuaian diri negatif (abnormal). Tidak selamanya individu berhasil melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri.
Ada individu-individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif, namun ada pula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang salah
·         Penyesuaian Diri Secara Positif
Individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai hal- hal sebagai berikut :
-      Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
-      Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis
-      Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
-      Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri
-      Mampu dalam belajar
-      Menghargai pengalaman
-      Bersikap realistik dan objektif.
Individu akan melakukan penyesuaian diri secara positif dalam berbagai bentuk, antara lain:
-      Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung, yaitu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibatnya dan melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi individu.
-      Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan), yaitu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalah individu.
-      Penyesuaian dengan trial and error (coba-coba), yaitu melakukan tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan.
-      Penyesuaian dengan substitusi (mencari pengganti)
-      Penyesuaian dengan menggali kemampuan diri, yaitu individu menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam diri, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri.
-      Penyesuaian dengan belajar, yaitu menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari belajar untuk membantu penyesuaian diri.
-      Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri, yaitu memilih tindakan yang tepat dan mengendalikan diri secara tepat dalam melakukan tindakannya.
-      Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat, yaitu mengambil keputusan setelah dipertimbangkan segi untung dan ruginya.

·         Penyesuaian Diri yang Salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah, yang ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya.
Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah, yaitu:
-      Reaksi Bertahan (Defence reaction), yaitu individu berusaha untuk memperthankan dirinya, seolah-olah tidak mengahadapi kegagalan dan selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya tidak mengalami kegagalan dengan melakukan rasionalisasi, represi, proyeksi, dan sebagainya.
-      Reaksi menyerang (Aggressive Reaction), yaitu menyerang untuk menutupi kesalahan dan tidak mau menyadari kegagalan, yang tampak dalam perilaku selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, kera kepala dalam perbuatan, menggertak baik dengan ucapan dan perbuatan, menunjukkan sikap permusuhan secra terbuka, dan sebagainya.
-      Reaksi Melarikan Diri, yaitu melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, yang tampak dalam perilaku berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, regresi, dan sebagainya.
- http://www.psychologymania.com/2012/09/karakteristik-penyesuaian-diri.html
2.    Pertumbuhan Personal
Life is not advancement. It is growth. It does not move upward, but expands outward, in all directions.”  (Russell G. Alexander , Father, Human Being, Recovering Philosopher, 1954)
Kalimat diatas sangat menarik jika kita berbicara tentang pertumbuhan diri (Personal Growth), karena pertumbuhan diri pada hakekatnya adalah pengembangan kualitas hidup dalam semua aspek yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pertumbuhan di salah satu aspek hidup mempengaruhi pertumbuhan di aspek hidup yang lain. Karena itu pertumbuhan diri haruslah dipahami dan dihayati sebagai sebuah kehidupan yang terintegrasi, dan bukan bukan terpisah-pisah.
Secara natur manusia harus bertumbuh dan berkembang. Kapabilitas dan kapasitasnya harus terus-menerus diasah untuk agar mampu memberdayakan kehidupannya dan alam sekitarnya menjadi lebih berkualitas. Mengapa kita perlu bertumbuh dan berkembang? Prinsip apa yang melandasinya? 
Pertama, bahwa pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses transformasi hidup. Perubahan atau transformasi ini terjadi melalui pembaharuan akal budi dan pikiran manusia. Tujuannya agar manusia memiliki kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi akal budi dan pikiran tersebut dimaksud untuk mendorong perubahan kualitas hidup manusia.
Kedua, bahwa kita harus mengembangkan apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita, haruslah kita kembangkan secara optimal sebagai bentuk pertanggungjawaban  kepda Tuhan. Bukan masalah barapa banyak talenta yang kita miliki, tetapi apakah kita mengasah, melatih, dan mengembangkannya dengan baik seluruh talenta yang dipercayakan kepada kita.
Ketiga, prinsip pertumbuhan selalu dikaitkan dengan kualitas. Bertumbuh berarti menghasilkan kualitas yang baik, dan sebaliknya. Karena itu prinsip “bekerja dan mengusahakan yang terbaik” adalah esensi dari prinsip pertumbuhan ini.  
Keempat, prinsip pertumbuhan diri haruslah didasarkan pada: kasih kepada Allah dan kepada manusia. Esensi dari prinsip ini adalah bahwa pertumbuhan diri tidak boleh bersifat egoistis. Tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri,  tetapi supaya bisa melayani orang lain secara optimal dalam berbagai bidang kehidupan kita.
Keempat prinsip inilah landasan kita dalam perencanaan pertumbuhan diri kita. Proses bertumbuh adalah proses sepanjang kehidupan kita. Pribadi yang bertumbuh dan berkualitas adalah pribadi yang dibentuk melalui proses panjang dalam kehidupan. Diperlukan mentalitas pembelajaran diri (self learning) dalam proses ini.
Pembelajaran Diri
Pembelajaran diri dapat di gambarkan melalui 3 unsur dalam segi tiga pertumbuhan berikut.
 Gambar 1. Tiga Unsur Pembelajaran Diri
Triangle
Unsur pertama adalah tujuan atau visi hidup. Ini sangat fundamental jika  kita berbicara tentang pembelajaran diri.  Tanpa visi atau tujuan hidup tidak mungkin ada upaya pembelajaran, karena tidak ada hal yang dituju dan dikejar dalam kehidupan. Kita perlu memiliki visi dan tujuan kehidupan, karena itulah yang akan memandu perjalanan kehidupan kita. 
Unsur kedua adalah peluang, tantangan dan perubahan yang ada di sekitar kita. Kita selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan di sekitar kita. Perubahan itu bisa menjadi peluang dan tantangan bagi kita untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang. Bagaimana sikap kita dalam berespon terhadap tantangan dan peluang tersebut sangat menentukan pengembangan diri kita.  
Unsur ketiga adalah sumber daya yang dimiliki. Setiap orang punya resourcesdasar yang dimilikinya: bakat, talenta, kecerdasan, kompetensi dan lain-lain. Ada yang dipercayakan banyak, ada yang sedikit. Tetapi faktor sumberdaya ini bukanlah faktor dominan yang menjadi penentu dalam proses pertumbuhan kita.  Ada pengikat ketiga unsur tersebut dalam proses pembelajaran diri, yaitu pola pikir (mind set)
Mind set adalah pola pikir yang terkait dengan kepercayaan dasar yang kita miliki. Ia akan mempengaruhi  sikap, perilaku, dan tindakan kita.  Segala sesuatu dimulai dari proses kita berpikir. 
Gambar berikut menjelaskan tentang yang mempengaruhi mind set kita, dan apa yang bisa dipengaruhinya.
Gambar 2. Apa Yang Mempengaruhi Mind Set
MIND SET - APA SAJA YANG MEMPENGARUHINYA
Gambar 3. Apa yang Dipengaruhi Mind Set
MInd set - apa yang mempengaruhinya
 Bagaimana membentuk mindset?
Mind set perlu dibentuk melalui berbagai aktivitas yang mendukungnya. Pola pikir kita harus diberikan “nutrisi” yang tepat agar sehat, jernih, dan optimal. Aktivitas apa yang positif dalam membentuk mind set kita?
Pertama, kita perlu belajar dari buku sumber hikmat dan kehidupan, yaitu kitab-kitab yang menjadi sumber kepercayaan kita sebagai orang beriman. Tidak saja untuk memahami dan mempelajarinya, namun sampai kepada tindakan menghayati dan melakukannya. Firman Tuhan dalam kitab-kitab tersebut kaya akan kebenaran yang bisa memandu kita dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak
Kedua, membaca buku-buku yang baik dan berkualitas akan berguna untuk: membentuk cara pandang kita dalam melihat berbagai persoalan; mempeluas wawasan berpikir kita; dan merubah cara berpikir kita.
Ketiga, melatih pikiran kita melalui proses berdiskusi dengan berbagai orang atau komunitas di sekitar kita agar terbentuk mind set yang positif dan kritis. Pikiran yang terlatih akan membentuk mind set yang baik.
Keempat, belajar kepada orang-orang yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih dibandingkan kita. Proses belajar ini bisa melalui berbagai cara : mendengarkan ceramah, membaca tulisan-tulisan mereka, berinteraksi secara positif dengan mereka, dan sebagainya. Jangan pernah malu untuk bertanya hal yang kita tidak tahu.
Jika kita melakukan tindakan-tindakan sederhana ini, maka kita sedang melatih mind set kita dengan benar.
Bagaimana merencanakan pertumbuhan diri?
Pertumbuhan diri adalah sebuah proses yang seharusnya bisa direncanakan. Peningkatan kualitas dan kapabilitas kehidupan kita bisa jadi adalah hasil dari sebuah proses yang terjadi secara tidak terencana maupun terencana. Namun merencanakan pertumbuhan diri akan memiliki dampak yang lebih terukur dan berkesinambungan. Bagaimana caranya?
1. Memulai dengan identifikasi: Peluang-peluang apa saja yang dapat kita gunakan untuk  berkembang   hari ini? Untuk diri kita? Profesi kita? Untuk orang orang di sekitar  kita? Kelemahan-kelemahan apakah yang perlu kita tingkatkan (berkaitan dengan profesi, karakter, kompetensi, ketrampilan dan sebagainya)?
 2.   Menyusun sebuah rencana. Kapan, dimana, dan bagaimana saya akan memulai rencana kita? Rencana ini perlu dibuat secara terukur dan bisa dievaluasi dan diidentifikasi kemajuannya.
 3.  Jika menemui rintangan dan kemunduran, maka pikirkan dan renungkan apa yang menjadi kendala, kesulitan, dan masalahnya. Jika kita sudah menemukannya, maka susun lagi rencana tindakan: Kapan, dimana, dan bagaimana kita akan melaksanakan rencana kita?
 4.  Jika berhasil, pikirkan untuk mempertahankannya Apa yang harus kita lakukan untuk mempertahankan dan melanjutkan perkembangan dan keberhasilan kita? Setiap upaya peningkatan kapabilitas kita, perlu dipertahankan agar terus menghasilkan keluaran dan dampak positif dalam kehidupan kita.
 5.  Proses perencanaan ini harus selalu dilakukan evaluasi dengan meminta umpan balik dari orang lain.

Sumber: http://esbede.wordpress.com/tag/personal-development



tulisan 2


TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Para psikolog mempunyai pandangan yang berbeda di antara mereka sendiri ketika mengartikan kepribadian. Sebagian besar dari mereka menyetujui bahwa kata  “Kepribadian( Personality) berasal dari bahasa Latin  Persona, mengacu pada topeng yang di pakai oleh aktor Romawi dalam pertunjukan drama Yunani.
Walau tidak ada definisi tunggal yang bisa diterima oleh semua teoritikus kepribadaian, kita bisa mengatakan bahwa Kepribadian adalah pola sifat dan karakteristik tertentu, yang relatif permanen dan memberikan, baik konsistensi maupun individualitas pada perilaku seseorang.
Ø Aliran Psikoanalisa
Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut Freud pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang. Pandangan Freud secara lengkap adalah sebagai berikut:
1.    Kesadaran dan Ketidaksadaran
Sigmund Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri dari: Kesadaran  (the conscious) dan Ketidaksadaran ( the unconscious).
2.   Insting dan Kecemasan
Freud menyatakan insting terdiri dari insting untuk hidup (life instinct) dan insting untuk mati (death instinct).

Ada delapan mekanisme pertahanan yang dikemukakan oleh Freud:
1). REPRESI
Represi terjadi kalau ada seseorang mengalami suatu peristiwa, tetapi karena pengalaman itu ternyata mengancam atau bertentangan dengan super ego, maka pengalaman tersebut ditekan atau direpres masuk kedalam ketidaksadaran dan disimpan agar tidak mengancam super ego lagi.
2). PEMBENTUKAN REAKSI
Reaksi seseorang yang sebaliknya dari yang dikehendaki, agar tidak melanggar ketentuan dari super ego.
3). PROYEKSI
Super ego melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap negatif terhadap orang lain, maka ia berbuat seolah-olah orang lain yang mempunyai perasaan atau sikap negatif terhadap dirinya.
4). DISPLACEMENT
Seseorang yang tidak dapat melampiaskan perasaan ke orang lain karena hambatan dari super ego, maka ia akan melampiaskan perasaan tersebut kepada pihak ketiga.
5). RASIONALISASI
Dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh super ego, dicarikan dasar rationalnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah dapat dibenarkan.
6). SUPRESI
Upaya menekankan sesuatu yang dianggap membahayakan atau bertentangan dengan super ego kedalam ketidaksadarannya.
7). SUBLIMASI
Dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh super ego dialihkan kedalam bentuk perilaku yang lebih sesuai dengan norma-norma masyarakat.
8). REGRESI
Pada saat libido melewati tahap perkembangan tertentu dimasa-masa penuh stres dan kecemasan, libido bisa kembali ketahap sebelumnya. Ada beberapa tingkat perkembangan , yaitu:
§  Fase Oral: Pada fase ini kepuasan seksual terutama terdapat disekitar mulut.
§  Fase Anal: Pada fase ini kira-kira usia dua tahun, daerah kepuasan seksual berpindah ke anus (toilet training).
§  Fase Phalic: Pada usia 6-7 tahun kepuasan seksualnya terdapat pada alat kelamin.
§  Fase Latent: Pada anak usia 7-8 tahun sampai menginjak awal masa remaja, seolah-olah tidak ada aktivitas seksual.
§  Fase Genital: Dimulai sejak masa remaja; segala kepuasan seks terutama berpusat pada alat kelamin.

Ø Aliran Behavioristik
1.    Juan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Pavlov ingin meneliti psikologi secara objektif, yaitu dapat diobservasi secara nyata, karena menurut mereka kesadaran tidak dapat diobservasi secara langsung.
2.   Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Thorndike merupakan tokoh yang mengadakan penelitian tentang animal psychology.

3.   Burrhus Frederick Skinner (1994-1990)
Skinner mengadakan suatu percobaan yang disebut prose kondisioning operant.
4.   John B. Watson (1878-1958)
Menurut Watson psikologi itu murni merupakan cabang dari pengetahuan alam eksperimental. Yang dipelajari adalahperilaku yang diamati, bukan kesadaran karena merupakan pengertian yang meragukan.

Ø Aliran Humanistik
Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi Humanistik.
Psikologi Humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Maslow menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang dituangkan dalam bukunya “Motivation and Personality”. Dalam buku tersebut diuraikan bahwaa pada manusia terdapat lima macam kebutuhan yang berhirarki, meliputi:
1.    Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
2.   Kebutuhan-kebutuhan rasa aman
3.   Kebutuhan rasa cinta dan memiliki
4.   Kebutuhan akan penghargaan
5.   Kebutuhan akan aktualisasi diri
Sumber : - Dr. A.M. Heru Basuki, Msi “PSIKOLOGI UMUM “ Universitas Gunadarma.
-      Feist, G&J  “Theories of Personality “ Salemba Humanika; Jakarta

tulisan 1


A.  KONSEP SEHAT

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR45cyeaMP2CKppnqOQha6Oa9cznE1mwtr6rwl5sma0ijsJGp7wqQ
Istilah Kesehatan Mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata mental memilki persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin yang berarti Psikis atau Jiwa, jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental.
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial).
Kesehatan mental seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat ia hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya.
Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan yang dimaksud di sini lebih banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya. M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi kesehatan mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.”
Definisi dari Jahoda mengandung istilah-istilah yang pengertiannya perlu dipahami secara jelas yaitu penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri, penilaian nyata tentang kehidupan dan keadaan diri sendiri.
Penyesuaiaan diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar  diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

















B.  SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ-ppfF08AqCrnGHQ8GtmgfqpzcEdU67Q5MpMT32kag96ROv0Tm
Problem kesehatan mental sebenarnya sudah ada sejak manusia sendiri itu ada. Sejak dulu manusia tidak hanya mengalami sakit jasmani tetapi juga merasakan kesedihan,tertekan dan putus asa. Dan tentu saja orang juga berusaha untuk menyembuhkan sakit non-jasmaniahnya baik dengan cara yang rasional misalnya dengan minta nasehat pada orang tua, orang yang dituakan atau dianggap bijak dan dengan cara yang irasional dengan pergi ke dukun atau melakukan penyembahan pada benda-benda yang dianggap keramat. Perkembangan kebudayaan, tekhnologi dan ilmu pengetahuan mempengaruhi cara-cara orang untuk mengatasi problem non jasmaniah yang semakin lama tumbuh menjadi ilmu pengetahuan sendiri.
Pada tahun 1908 terbut sebuah buku yang sangat terkenal dengan judul “A Mind That Found It Self”. Buku tersebut dikarang oleh Clifford Whittingham Beers. Buku itu menceritakan pengalaman-pengalamannya saat dirawat dibeberapa rumah sakit. Ia mendapatkan perawatan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan pada pasien dengan gangguan jiwa, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental. Perawatan yang tulus dan penuh kasih justru memberikan dampak yang positif bagi penderita gangguan jiwa.  Dari pengalamannya yang tidak menyenangkan selama dirawat itulah, ia menyatakan bahwa keramah tamahan yang ditunjukkan kepadanya justru memberikan dampak penyembuhan yang besar bagi dirinya. Clifford Wittingham memberikan beberapa saran dalam usaha pencegahan terjadinya gangguan mental dan perawatannya:
-          Pembaruan dalam perawatan penderita
-          Menyebarluaskan informasi untuk merubah sikap terhadap pasien gangguan jiwa supaya lebih tepat dan manusiawi.
-          Mendorong diadakannya penelitian terhadap sebab-sebab dan perawatan terhadap sakit mental
-          Mengembangkan usaha-usaha untuk mencegah gangguan mental.
Demikian hidup dan menarik buku Clifford Beers tersbut membuat banyak orang tergerak hatinya untuk ikut serta dalam gerakan kesehatan mental. Adolf Meyer mengusulkan usaha-usaha atau gerakan kesehatan mental itu disebut Mental Hygiene yang secara harfiah berarti pemeliharaan kesehatan mental  (preservation of the health of the mind) kemudian pada tahun 1908 itu pula didirikan Society for Mental Hygiene di Connecticut. Tahun berikutnya secara formal dibentuk panitia nasional untuk kesehatan mental. Gerakan kesehatan mental semakin meluas ke negara-negara lain, sehingga ketika pada tahun 1930 diadakan kongres internasional mental hygiene di washington dc, dimana 53 negara mengirimkan wakil-wakilnya kesana.
Dewasa ini perhatian orang-orang terhadap kesehatan mental semakin besar. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya fasilitas kesehatan bagi para penderita gangguan mental, keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan mental pun sudah tidak merasa malu untuk membawa berobat, di masa lalu anggota keluarga yang mengalami gangguan mental dikucilkan bahkan ada pula yang dipasung.
Demikian pula disekolah tidak lepas dari pengaruh kesehatan mental. Para pendidik semakin menyadari perlunya pengetrapan prinsip-prinsip kesehatan mental untuk tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Justru sekolah yang mempunyai peranan besar dalam “membentuk” manusia-manusia yang sehat badan dan jiwanya.
Problem kesehatan mental sebenarnya sudah ada sejak manusia sendiri itu ada. Sejak dulu manusia tidak hanya mengalami sakit jasmani tetapi juga merasakan kesedihan,tertekan dan putus asa. Dan tentu saja orang juga berusaha untuk menyembuhkan sakit non-jasmaniahnya baik dengan cara yang rasional misalnya dengan minta nasehat pada orang tua, orang yang dituakan atau dianggap bijak dan dengan cara yang irasional dengan pergi ke dukun atau melakukan penyembahan pada benda-benda yang dianggap keramat. Perkembangan kebudayaan, tekhnologi dan ilmu pengetahuan mempengaruhi cara-cara orang untuk mengatasi problem non jasmaniah yang semakin lama tumbuh menjadi ilmu pengetahuan sendiri.
Pada tahun 1908 terbut sebuah buku yang sangat terkenal dengan judul “A Mind That Found It Self”. Buku tersebut dikarang oleh Clifford Whittingham Beers. Buku itu menceritakan pengalaman-pengalamannya saat dirawat dibeberapa rumah sakit. Ia mendapatkan perawatan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan pada pasien dengan gangguan jiwa, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental. Perawatan yang tulus dan penuh kasih justru memberikan dampak yang positif bagi penderita gangguan jiwa.  Dari pengalamannya yang tidak menyenangkan selama dirawat itulah, ia menyatakan bahwa keramah tamahan yang ditunjukkan kepadanya justru memberikan dampak penyembuhan yang besar bagi dirinya. Clifford Wittingham memberikan beberapa saran dalam usaha pencegahan terjadinya gangguan mental dan perawatannya:
-          Pembaruan dalam perawatan penderita
-          Menyebarluaskan informasi untuk merubah sikap terhadap pasien gangguan jiwa supaya lebih tepat dan manusiawi.
-          Mendorong diadakannya penelitian terhadap sebab-sebab dan perawatan terhadap sakit mental
-          Mengembangkan usaha-usaha untuk mencegah gangguan mental.
Demikian hidup dan menarik buku Clifford Beers tersbut membuat banyak orang tergerak hatinya untuk ikut serta dalam gerakan kesehatan mental. Adolf Meyer mengusulkan usaha-usaha atau gerakan kesehatan mental itu disebut Mental Hygiene yang secara harfiah berarti pemeliharaan kesehatan mental  (preservation of the health of the mind) kemudian pada tahun 1908 itu pula didirikan Society for Mental Hygiene di Connecticut. Tahun berikutnya secara formal dibentuk panitia nasional untuk kesehatan mental. Gerakan kesehatan mental semakin meluas ke negara-negara lain, sehingga ketika pada tahun 1930 diadakan kongres internasional mental hygiene di washington dc, dimana 53 negara mengirimkan wakil-wakilnya kesana.
Dewasa ini perhatian orang-orang terhadap kesehatan mental semakin besar. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya fasilitas kesehatan bagi para penderita gangguan mental, keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan mental pun sudah tidak merasa malu untuk membawa berobat, di masa lalu anggota keluarga yang mengalami gangguan mental dikucilkan bahkan ada pula yang dipasung.
Demikian pula disekolah tidak lepas dari pengaruh kesehatan mental. Para pendidik semakin menyadari perlunya pengetrapan prinsip-prinsip kesehatan mental untuk tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Justru sekolah yang mempunyai peranan besar dalam “membentuk” manusia-manusia yang sehat badan dan jiwanya.




C.  PENDEKATAN KESEHATAN MENTAL
v  Pendekatan Orientasi Klasik
·                     Kesadaran tentang perlunya perlakuan yang lebih manusiawi terhadap penyandang gangguan mental
·                     Pengertian Klasik mengandung arti sempit, karena kajian ilmu kesehatan mental lebih diperuntukkan bagi orang yang mengalami gangguan dan penyakit jiwa
·                     Penyembuhan konflik-konflik dan trauma masa lalu
v  Orientasi Penyesuaian Diri
·                     Mengacu pada kemampuan individu untuk diri dengan diri sendiri dan norma sosial
·                     Belajar respon yang adaptif
v  Orientasi Pengembagan Potensi
·                     Pelepasan sumber-sumber yang tersembunyi dari bakat, kreativitas, energi dan dorongan
·                     Aktualisasi diri sesuai potensinya    

Sumber :  blog.uad.ac.id