Minggu, 31 Maret 2013

tulisan 3


PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN PERSONAL
1.    Penyesuaian Diri
Pengertian Penyesuaian Diri Pengertian Penyesuaian Dirihttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5Mx1i9azVEdOl77dT0mSHgJaxucUxtHd2ih91QLUgOgRZ_fk3K9BXC6hojqEK_OswoZzS6Q8oWqugHz5Tk4UwNzppvj0UJK05uADc3RMtd4I0tKmeiS18jHelHQlBaoyl1qxngrtRfa8/s320/P.jpg
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).
Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSirZadBeNPPAt71_bQMwH9_X117EK4-OxPpttFOmqpF46k3io6SQ
Penyesuaian diri memiliki karakteritistik yang dapat diamati. Karakteristik penyesuaian diri dapat dibedakan menjadi penyesuaian diri positif (normal) dan penyesuaian diri negatif (abnormal). Tidak selamanya individu berhasil melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri.
Ada individu-individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif, namun ada pula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang salah
·         Penyesuaian Diri Secara Positif
Individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai hal- hal sebagai berikut :
-      Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
-      Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis
-      Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
-      Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri
-      Mampu dalam belajar
-      Menghargai pengalaman
-      Bersikap realistik dan objektif.
Individu akan melakukan penyesuaian diri secara positif dalam berbagai bentuk, antara lain:
-      Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung, yaitu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibatnya dan melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi individu.
-      Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan), yaitu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalah individu.
-      Penyesuaian dengan trial and error (coba-coba), yaitu melakukan tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan.
-      Penyesuaian dengan substitusi (mencari pengganti)
-      Penyesuaian dengan menggali kemampuan diri, yaitu individu menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam diri, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri.
-      Penyesuaian dengan belajar, yaitu menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari belajar untuk membantu penyesuaian diri.
-      Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri, yaitu memilih tindakan yang tepat dan mengendalikan diri secara tepat dalam melakukan tindakannya.
-      Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat, yaitu mengambil keputusan setelah dipertimbangkan segi untung dan ruginya.

·         Penyesuaian Diri yang Salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah, yang ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya.
Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah, yaitu:
-      Reaksi Bertahan (Defence reaction), yaitu individu berusaha untuk memperthankan dirinya, seolah-olah tidak mengahadapi kegagalan dan selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya tidak mengalami kegagalan dengan melakukan rasionalisasi, represi, proyeksi, dan sebagainya.
-      Reaksi menyerang (Aggressive Reaction), yaitu menyerang untuk menutupi kesalahan dan tidak mau menyadari kegagalan, yang tampak dalam perilaku selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, kera kepala dalam perbuatan, menggertak baik dengan ucapan dan perbuatan, menunjukkan sikap permusuhan secra terbuka, dan sebagainya.
-      Reaksi Melarikan Diri, yaitu melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, yang tampak dalam perilaku berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, regresi, dan sebagainya.
- http://www.psychologymania.com/2012/09/karakteristik-penyesuaian-diri.html
2.    Pertumbuhan Personal
Life is not advancement. It is growth. It does not move upward, but expands outward, in all directions.”  (Russell G. Alexander , Father, Human Being, Recovering Philosopher, 1954)
Kalimat diatas sangat menarik jika kita berbicara tentang pertumbuhan diri (Personal Growth), karena pertumbuhan diri pada hakekatnya adalah pengembangan kualitas hidup dalam semua aspek yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pertumbuhan di salah satu aspek hidup mempengaruhi pertumbuhan di aspek hidup yang lain. Karena itu pertumbuhan diri haruslah dipahami dan dihayati sebagai sebuah kehidupan yang terintegrasi, dan bukan bukan terpisah-pisah.
Secara natur manusia harus bertumbuh dan berkembang. Kapabilitas dan kapasitasnya harus terus-menerus diasah untuk agar mampu memberdayakan kehidupannya dan alam sekitarnya menjadi lebih berkualitas. Mengapa kita perlu bertumbuh dan berkembang? Prinsip apa yang melandasinya? 
Pertama, bahwa pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses transformasi hidup. Perubahan atau transformasi ini terjadi melalui pembaharuan akal budi dan pikiran manusia. Tujuannya agar manusia memiliki kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi akal budi dan pikiran tersebut dimaksud untuk mendorong perubahan kualitas hidup manusia.
Kedua, bahwa kita harus mengembangkan apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita, haruslah kita kembangkan secara optimal sebagai bentuk pertanggungjawaban  kepda Tuhan. Bukan masalah barapa banyak talenta yang kita miliki, tetapi apakah kita mengasah, melatih, dan mengembangkannya dengan baik seluruh talenta yang dipercayakan kepada kita.
Ketiga, prinsip pertumbuhan selalu dikaitkan dengan kualitas. Bertumbuh berarti menghasilkan kualitas yang baik, dan sebaliknya. Karena itu prinsip “bekerja dan mengusahakan yang terbaik” adalah esensi dari prinsip pertumbuhan ini.  
Keempat, prinsip pertumbuhan diri haruslah didasarkan pada: kasih kepada Allah dan kepada manusia. Esensi dari prinsip ini adalah bahwa pertumbuhan diri tidak boleh bersifat egoistis. Tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri,  tetapi supaya bisa melayani orang lain secara optimal dalam berbagai bidang kehidupan kita.
Keempat prinsip inilah landasan kita dalam perencanaan pertumbuhan diri kita. Proses bertumbuh adalah proses sepanjang kehidupan kita. Pribadi yang bertumbuh dan berkualitas adalah pribadi yang dibentuk melalui proses panjang dalam kehidupan. Diperlukan mentalitas pembelajaran diri (self learning) dalam proses ini.
Pembelajaran Diri
Pembelajaran diri dapat di gambarkan melalui 3 unsur dalam segi tiga pertumbuhan berikut.
 Gambar 1. Tiga Unsur Pembelajaran Diri
Triangle
Unsur pertama adalah tujuan atau visi hidup. Ini sangat fundamental jika  kita berbicara tentang pembelajaran diri.  Tanpa visi atau tujuan hidup tidak mungkin ada upaya pembelajaran, karena tidak ada hal yang dituju dan dikejar dalam kehidupan. Kita perlu memiliki visi dan tujuan kehidupan, karena itulah yang akan memandu perjalanan kehidupan kita. 
Unsur kedua adalah peluang, tantangan dan perubahan yang ada di sekitar kita. Kita selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan di sekitar kita. Perubahan itu bisa menjadi peluang dan tantangan bagi kita untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang. Bagaimana sikap kita dalam berespon terhadap tantangan dan peluang tersebut sangat menentukan pengembangan diri kita.  
Unsur ketiga adalah sumber daya yang dimiliki. Setiap orang punya resourcesdasar yang dimilikinya: bakat, talenta, kecerdasan, kompetensi dan lain-lain. Ada yang dipercayakan banyak, ada yang sedikit. Tetapi faktor sumberdaya ini bukanlah faktor dominan yang menjadi penentu dalam proses pertumbuhan kita.  Ada pengikat ketiga unsur tersebut dalam proses pembelajaran diri, yaitu pola pikir (mind set)
Mind set adalah pola pikir yang terkait dengan kepercayaan dasar yang kita miliki. Ia akan mempengaruhi  sikap, perilaku, dan tindakan kita.  Segala sesuatu dimulai dari proses kita berpikir. 
Gambar berikut menjelaskan tentang yang mempengaruhi mind set kita, dan apa yang bisa dipengaruhinya.
Gambar 2. Apa Yang Mempengaruhi Mind Set
MIND SET - APA SAJA YANG MEMPENGARUHINYA
Gambar 3. Apa yang Dipengaruhi Mind Set
MInd set - apa yang mempengaruhinya
 Bagaimana membentuk mindset?
Mind set perlu dibentuk melalui berbagai aktivitas yang mendukungnya. Pola pikir kita harus diberikan “nutrisi” yang tepat agar sehat, jernih, dan optimal. Aktivitas apa yang positif dalam membentuk mind set kita?
Pertama, kita perlu belajar dari buku sumber hikmat dan kehidupan, yaitu kitab-kitab yang menjadi sumber kepercayaan kita sebagai orang beriman. Tidak saja untuk memahami dan mempelajarinya, namun sampai kepada tindakan menghayati dan melakukannya. Firman Tuhan dalam kitab-kitab tersebut kaya akan kebenaran yang bisa memandu kita dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak
Kedua, membaca buku-buku yang baik dan berkualitas akan berguna untuk: membentuk cara pandang kita dalam melihat berbagai persoalan; mempeluas wawasan berpikir kita; dan merubah cara berpikir kita.
Ketiga, melatih pikiran kita melalui proses berdiskusi dengan berbagai orang atau komunitas di sekitar kita agar terbentuk mind set yang positif dan kritis. Pikiran yang terlatih akan membentuk mind set yang baik.
Keempat, belajar kepada orang-orang yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih dibandingkan kita. Proses belajar ini bisa melalui berbagai cara : mendengarkan ceramah, membaca tulisan-tulisan mereka, berinteraksi secara positif dengan mereka, dan sebagainya. Jangan pernah malu untuk bertanya hal yang kita tidak tahu.
Jika kita melakukan tindakan-tindakan sederhana ini, maka kita sedang melatih mind set kita dengan benar.
Bagaimana merencanakan pertumbuhan diri?
Pertumbuhan diri adalah sebuah proses yang seharusnya bisa direncanakan. Peningkatan kualitas dan kapabilitas kehidupan kita bisa jadi adalah hasil dari sebuah proses yang terjadi secara tidak terencana maupun terencana. Namun merencanakan pertumbuhan diri akan memiliki dampak yang lebih terukur dan berkesinambungan. Bagaimana caranya?
1. Memulai dengan identifikasi: Peluang-peluang apa saja yang dapat kita gunakan untuk  berkembang   hari ini? Untuk diri kita? Profesi kita? Untuk orang orang di sekitar  kita? Kelemahan-kelemahan apakah yang perlu kita tingkatkan (berkaitan dengan profesi, karakter, kompetensi, ketrampilan dan sebagainya)?
 2.   Menyusun sebuah rencana. Kapan, dimana, dan bagaimana saya akan memulai rencana kita? Rencana ini perlu dibuat secara terukur dan bisa dievaluasi dan diidentifikasi kemajuannya.
 3.  Jika menemui rintangan dan kemunduran, maka pikirkan dan renungkan apa yang menjadi kendala, kesulitan, dan masalahnya. Jika kita sudah menemukannya, maka susun lagi rencana tindakan: Kapan, dimana, dan bagaimana kita akan melaksanakan rencana kita?
 4.  Jika berhasil, pikirkan untuk mempertahankannya Apa yang harus kita lakukan untuk mempertahankan dan melanjutkan perkembangan dan keberhasilan kita? Setiap upaya peningkatan kapabilitas kita, perlu dipertahankan agar terus menghasilkan keluaran dan dampak positif dalam kehidupan kita.
 5.  Proses perencanaan ini harus selalu dilakukan evaluasi dengan meminta umpan balik dari orang lain.

Sumber: http://esbede.wordpress.com/tag/personal-development



Tidak ada komentar:

Posting Komentar