TEORI KEPRIBADIAN
SEHAT MENURUT BEBERAPA TOKOH
Allport: Ciri-ciri Kepribadian Yang Matang
Kepribadian yang matang lebih
dapat termotivasi oleh proses sadar daripada kepribadian yang terganggu, yang
membuat mereka menjadi lebih fleksibel dan mandiri dibanding pribadi yang tidak
sehat, yang akan tetap terdominasi oleh motif-motif tidak sadar yang berasal
dari pengalaman masa kecil mereka.
Pribadi yang sehat mempunyai
masa kecil yang relatif tidak traumatis walaupun pada tahun-tahun berikutnya
mereka dapat menghadapi konflik dari penderitaan. Orang-orang yang sehat secara
psikologis tidak terbebas dari kelemahan-kelemahan ataupun keanehan-keanehan
yang membuat mereka unik. Selain itu, usia juga tidak diperlukan untuk
kedewasaan, walaupun manusia yang sehat kelihatan menjadi dewasa saat mereka
bertambah umurnya.
Ada enam kepribadian yang
matang menurut Allport:
1. Perluasan Perasaan Diri: Pribadi yang matang
terus mencari untuk dapat mengidentifikasi diri dan berpartisipasi dalam
kejadian yang terjadi di luar diri mereka. Mereka tidak berpusat pada diri
sendiri ( self-centered ) serta mampu untuk terlibat dalam masalah dan
aktivitas yang tidak berpusat pada diri mereka. Mereka mengembangkan minat yang
tidak egosentris dalam pekerjaan, permainan dan rekreasi. Minat atas kehidupan
sosial ( gemenschaftsgefuhl ), keluarga, dan spiritual sangat penting
bagi mereka.
2. Hubungan yang Hangat dengan Orang Lain: Mereka
mempunyai
kapasitas untuk mencintai orang laindalam cara-cara yang intim dan simpatik
dengan orang lain. Hubungan yang hangat sangat tergantung pada kemampuan
seseorang untuk memperluas perasaan diri mereka. Hanya dengan melihat jauh kedepan,
manusia dapat mencintai orang lain dengan cara yang dewasa, tanpa posesif
maupun egois.
3. Keamanan emosional atau penerimaan Diri:
Pribadi yang matang menerima diri mereka apa adanya, dan memiliki apa yang
disebut sebagai keseimbangan emosional. Sifat dari kepribadian yang sehat ini
meliputi beberapa kualitas; kualitas utama adalah penerimaan diri. Kepribadian-
Kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi-emosi manusia; mereka bukan
tawanan dari emosi-emosi mereka; dan mereka juga tidak berusaha bersembunyo
dari emosi-emosi itu.
4. Persepsi yang Realistis: Mereka tidak hidup
di dalam dunia fantasi atau membelokkan kenyataan agar sesuai dengan harapan
mereka. Mereka berfokus pada masalah dibanding pada pribadi, dan lebih
berinteraksi dengan dunia seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang. Orang-orang
yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Orang-orang yang sehat tidak
perlu percaya bahwa orang-orang lain dan situasi-situasi semuanya sehat atau
semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas.
5. Insight dan Humor: Pribadi yang matang
mengenal dirinya sendiri, sehingga tidak mempunyai kebutuhan untuk
mengatribusikan kesalahan dan kelemahannya kepada orang lain. Allport yakin
bahwa insight dan humor sangat berhubungan, serta mungkin merupakan aspek-aspek
dari hal yang sama, yaitu pemahaman diri ( self-objectication ).
6. Filosofi Kehidupan yang Integral: Manusia
yang sehat mempunyai pandangan yang jelas mengenai tujuan hidup mereka. Filosofi
kehidupan yang integral dapat berupa sesuatu yang bersifat religius ataupun tidak,
tetapi dalam tahap personal, Allport kelihatannya telah merasakan bahwa
orientasi religius yang matang merupakan komposisi yang penting dalam kehidupan
pribadi yang sangat matang.
Rogers: Perkembangan Kepribadian
Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar
dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan
pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari
pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai
bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa
yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah
kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan
membedakan aku dari yang bukan aku.
Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri
ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak,
Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
1. Incongruence
Adalah
ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual
disertai pertentangan dan kekacauan batin.
2. Congruence
Adalah situasi
dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang
utuh, integral, dan sejati.
Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai
kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman
yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.
Rogers
menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :
1. Keterbukaan pada pengalaman (openess
to experience)
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua
pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan
demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positif maupun
negatif.
2. Kehidupan Eksistensial (existential
living)
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap
pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu
berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman
selanjutnya.
3. Kepercayaan terhadap organisme orang
sendiri (organismic trusting)
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap
pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang
dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat
mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.
4. Perasaan Bebas (experiental freedom)
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa
adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang
yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan
dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada
peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam
kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.
5. Kreativitas (creativity)
Keterbukaan diri terhadap
pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong
seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah laku
spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons
atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat
adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi
dikontrol oleh peristiwa kanak – kanak seperti yang diajukan oleh aliran
freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual
sebelumnya.
Rogers lebih melihat pada masa sekarang,
dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana
seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya.
Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi
pada waktu itu.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri
sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang
unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh
belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah
sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu
(adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis
ke psikologis.
Rogers dikenal juga sebagai seorang
fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi
individu. Realitas tiap orang akan berbeda tergantung pada
pengalaman-pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal
field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan
fenomenal tersebut.
Maslow: Hierarki kebutuhan Individual
Hierarki kebutuhan yang diungkapkan Maslow beranggapan
bahwa kebutuhan-kebutuhan dilevel rendah harus terpenuhi atau paling tidak
cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan dilevel lebih
tinggimenjadi hal yang memotifasi.
Ada lima kebutuhan yang membentuk hierarki:
1.
Kebutuhan
fisiologis
Pada
dasarnya, manusia harus memenuhi kebutuhan fisiologisnya untuk dapat bertahan
hidup. Pada hirarki yang paling bawah ini, manusia harus memenuhi kebutuhan
makanan, tidur, minum, seks, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan fisik
badan. Bila kebutuhan dasar ini belum terpenuhi, maka manusia akan mengalami
kesulitan untuk berfungsi secara normal. Misalnya, seseorang mengalami
kesulitan untuk mendapatkan makanan, sehingga ia menderita kelaparan, maka ia
tidak akan mungkin mampu untuk memikirkan kebutuhan akan keamanannya ataupun
kebutuhan aktualisasi diri.
2. Kebutuhan
Keamanan (safety)
Pada
hirarki tingkat kedua, manusia membutuhkan rasa keamanan dalam dirinya. Baik
keamanan secara harfiah (keamanan dari perampok, orang jahat, dan lain-lain),
maupun keamanan secara finansial ataupun hal lainnya. Dengan memenuhi kebutuhan
keamanan tersebut, dapat dipastikan bahwa kebutuhan manusia dapat berlanjut ke
tahap berikutnya, yaitu kebutuhan kasih sayang dan sosial.
3.
Kebutuhan
kasih sayang / sosial (Love/belonging)
Setelah
memenuhi 2 kebutuhan yang bersifat individu, kini manusia menapaki kebutuhan
untuk diterima secara sosial. Emosi menjadi “pemain” utama dalam hirarki ketiga
ini. Perasaan menyenangkan yang dimiliki pada saat kita memiliki sahabat, seseorang
untuk berbagi cerita, hubungan dekat dengan keluarga adalah tujuan utama dari
memenuhi kebutuhan sosial ini.
4.
Kebutuhan
Percaya Diri (Esteem)
Semua
orang pasti ingin dihormati dan ingin merasa berguna bagi orang lain. Kebutuhan
semacam ini tertuang pada hirarki pada tahap keempat dalam piramid Abraham
Maslow. Kebutuhan untuk percaya diri ini biasanya muncul setelah ketiga
kebutuhan yang lebih mendasar sudah terpenuhi, meskipun tidak menutup
kemungkinan bahwa kebutuhan semacam ini dapat muncul tanpa harus memenuhi
ketiga kebutuhan yang lebih mendasar.
5.
Kebutuhan
aktualisasi diri (self-actualization)
Umumnya,
kebutuhan ini akan muncul bila seseorang merasa seluruh kebutuhan mendasarnya
sudah terpenuhi. Pada hirarki ini, biasanya seseorang akan berhadapan dengan
ambisi untuk menjadi seseorang memiliki kemampuan lebih. Seperti
mengaktualisasikan diri untuk menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu tertentu,
atau hasrat untuk mengetahui serta memenuhi ketertarikannya akan suatu hal.
Abraham Maslow menemukan
model piramid kebutuhan tersebut dengan melakukan penelitian terhadap beberapa
orang yang dianggapnya mencapai tahap aktualisasi diri tersebut, seperti Albert
Einstein. Ia beranggapan bahwa tidak semua orang dapat mencapai tahap yang
tertinggi, karena dalam hidup, pasti ada banyak hal yang menyebabkan tahapan
kebutuhan dalam piramid Maslow tidak dapat tercapai.
Erich Fromm: Ciri-ciri kepribadian yang sehat
Kepribadian yang
sehat menurut Erich Fromm adalah pribadi yang produktif yaitu pribadi yang
dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian yang sehat menurut
Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola hubungan yang sehat (konstruktif),
bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang
lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi (kebutuhan untuk melebihi peran-peran
pasif, melampaui perasaan tercipta menjadi pencipta yang aktif-kreatif).
Perasaan berakar yang diperoleh melalui persaudaraan dengan sesama umat
manusia, perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam
masyarakat. Perasaan identitas sebagai individu yang unik. Memiliki kerangka
orientasi (frame of reference) yang mendasari interpretasinya yang objektif
terhadap berbagai peristiwa.
Ada 4 segi
tambahan dari kepribadian sehat yaitu cinta, pikiran, kebahagiaan, dan suara
hati yang produktif. Cinta yang produktif adalah cinta yang memperhatikan serta
membantu pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Pikiran yang produktif adalah
pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan mempelajarinya secara keseluruhan,
bukan hanya dalam potongan-potongan. Suara hati yang produktif adalah suara
hati yang memimpin dan mengatur diri sendiri. Cinta yang produktif adalah suatu
hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat
mempertahankan individualitas mereka. Diri orang tidak terserap atau hilang
dalam cinta terhadap orang lain. Diri tidak berkurang dalam cinta produktif,
melainkan diperluas, dibiarkan terbuka sepenuhnya. Suatu perasaan akan hubungan
tercapai, tetapi identitas dan kemerdekaan seseorang terpelihara Cinta yang
produktif itu merupakan suatu kegiatan dan bukan suatu nafsu. Cinta yang
produktif tidak terbatas pada cinta yang erotis, tetapi mungkin merupakan cinta
persaudaraan. Tercapainya cinta yang produktif merupakan salah satu dari
prestasi-prestasi kehidupan yang lebih sulit. Mencintai orang-orang lain
berarti memperhatikan (dalam pengertian memelihara mereka) kesejahteraan
mereka, membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Mencintai berarti memikul
tanggung jawab untuk orang-orang lain. Fromm mengingatkan bahwa cinta yang
produktif ini sukar dicapai. Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan,
pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian
yang kuat terhadap objek pikiran. Pikiran yang produktif berfokus pada seluruh
gejala dengan mempelajari dan bukan pada kepingan-kepingan atau
potongan-potongan gejala yang terpisah. Fromm percaya bahwa semau penemuan dan
wawasan yang hebat pasti melibatkan pikiran objektif. Kebahagiaan merupakan
suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi
produktif. Kebahagiaan bukan karena suatu perasaan atau keadaan yang
menyenangkan melainkan kondisi yang meningkatkan seluruh organisme,
menghasilkan penambahan gaya hidup, meningkat kesehatan fisik, dan pemenuhan potensi-potensi
seseorang. Fromm menyatakan bahwa suatu perasaan kebahagiaan merupakan bukti
bagaimana keberhasilan seseorang ”dalam seni kehidupan”. Suara hati ada dua
tipe suara hati, yaitu suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara
hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan, yang memimpin
tingkah laku orang itu. Apabila orang itu bertingkah laku berlawanan dengan
kode moral itu (atau bahkan berpikir untuk bertingkah laku demikian), maka dia
mengalami perasaan bersalah. Jadi ’wasit’ dari tingkah laku dan pikiran
terletak diluar diri dan bertindak untuk menghalangi fungsi dan pertumbuhan
yang penuh dari diri.
Sumber:
Schultz. D. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta:
PENERBIT KANISIUS.
Feist. J&G. Teori Kepribadian 1 dan 2.
Jakarta: SALEMBA HUMANIKA
http://psikology09b.blogspot.com/2010/11/makalah-psi-kep-carl-rogers.html
http://pewepujasera.blogspot.com/2011/03/kepribandian-sehat-menurut-erich-fromm.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar