Selasa, 04 Juni 2013

tulisan 2: Hubungan Interpersonal


Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal merupakan suatu hubungan yang menyatakan ketertarikan positif dengan orang lain (Pychology Themes and Variations, Wayne Weiten). Ketertarikan itu bukan hanya ketertarikan kepada pasangan saja, namun juga kepada keluarga, teman, rekan kerja, dll. Kemarin sempat ada suatu diskusi yang cukup menarik bagi saya pribadi. Ketika kuliah, kami disuruh menulis tiga orang yang memiliki hubungan yang positif dengan kita. Salah satu teman saya menuliskan hubungannya dengan Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah hubungan dengan Tuhan juga merpakan hubungan interpersonal. Dari apa yang saya simpulkan, sebagian anak dari kelas saya menyatakan bahwa hubungan dengan Tuhan juga merupakan hubungan interpersonal. Karena mereka menganggap ada suatu hubungan timbal balik. Ketika seseorang berdoa, maka Tuhan akan mengabulkan doa tersebut. Itulah yang mereka anggap hubungan timbal balik. Karena salah satu ciri dari hubungan interpersonal adalah adanya suatu timbal balik. Tapi menurut saya pribadi, hubungan interpersonal tetaplah hubungan antar manusia yang ditimbulkan adanya ketertarikan positif.
Ada beberapa hal yang menyebabkan orang lain tertarik satu sama lainnya, antara lain
1. Ketertarikan secara fisik
Dalam menjalin suatu hubungan interpersonal, sadar atau tidak poin ini merupakan poin yang pertama. Bayangkan saja, apabila kita bertemu dengan seseorang, pasti yang menjadi penilaian pertama kali adalah penampilan fisik. Pengalaman yang saya peroleh juga menunjukan hal yang sama. Ketika saya memilih seorang pasangan, saya akan melihat apa dan bagaimana cara berpenampilannya, cara berbicara, cara menatap seseorang, cara bersikap, dll. Ketika point-point tersebut sudah cukup baik di mata saya, saya akan meresponnya. Tentunya dengan respon yang positif. Hal yang sama akan dilakukan ketika akan merekrut pegawai baru dalam suatu perusahaan misalnya. Tidak mungkin orang yang akan bekerja di perusahaan ternama akan diterima bekerja jika datang dengan pakaian yang robek-robek di sana sini. Atau mungkin dandan dengan make up yang sangat tebal seperti orang yang akan konser. Justru orang tersebut mungkin akan langsung di "black list" atau bahkan langsung diperkenankan keluar dari ruangan. Faktor ketertarikan secara fisik bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan orang bisa tertarik satu sama lain. Namun salah satu faktor utama dan yang pertama ketika orang lain bisa tertarik satu sama lain.
2. Adanya kesamaan
Pernahkah anda merasa tertarik dengan seseorang karena memiliki barang yang sama, sifat yang sama, style fashion yang sama, tujuan yang sama, ataupun pekerjaan yang sama? Entah dengan teman, pacar, ataupun rekan kerja? Jika pernah, berarti anda memiliki ketertarikan dengan orang tersebut karena adanya kesamaan. Saya memiliki cerita yang unik yang berkaitan dengan adanya kesamaan. Saya memiliki teman yang saat ini saya anggap sebagai saudara sendiri. Awalnya kami adalah teman biasa yang menjalani rutinitas seperti biasa. Jika bertemu kami hanya akan bertegur sapa saja tanpa meluangkan waktu untuk mengobrol. Suatu saat kami berada dalam kelompok yang sama dalam suatu mata kuliah. Sejak saat itu kami mulai banyak mengobrol dan berdiskusi. Dan dari situlah kami mengetahui bahwa kami memiliki minat yang sama dalam menjalankan suatu usaha. Dari situlah saya memiliki hubungan yang baik dengannya sehingga saya menganggnya saudara sendiri. Dari pengalaman yang saya peroleh menunjukan bahwa ketertarikan bisa saja muncul dari adanya kesamaan antar orang.
3. Efek timbal balik
Ketika seseorang memberikan respon positif kepada kita, maka kita akan akan membalas respon positif yang sama kepada orang tersebut. Itulah yang dinamakan efek timbal balik.Dale Carniegie (1936) suggested that people can gain others’ liking by showering them with praise and flattery (Pychology Themes and Variations, Wayne Weiten). Maksud dari Dale Carniegie adalah bahwa seseorang mampu mendapatkan hati orang lain atau dengan kata lain orang lain juga menyukai kita yaitu dengan memberikannya pujian dan sanjungan yang menunjukan bahwa kita menyukainya. Kita dapat melihat fenomena ini pada anak bayi. Ketika seorang pengasuh memberikan perhatian dan dapat memberikan kenyamanan pada si bayi, maka bayi tersebut akan memiliki kedekatang khusus dengan pengasuh bayi tersebut. Kebalikannya, jika pengasuh masa bodoh atau kurang peduli dengan si bayi, maka ada penolakan dari si bayi. Penolakan tersebut entah tidak mau didekati atau akan menangis jika diasuh oleh pengasuh tersebut. Contoh yang lain dapat saya kaiatkan dengan pengalaman pribadi saya. Saya akan menyukai seorang pria yang secara jantan menyatakan bahwa dia suka dengan saya. Dari situ ada ketertarikan yang secara intens yang saya tujukan kepadanya.
4. Romantic ideals
Saat membahas mengenai sub bab ini, dapat dijelaskan bahwa seseorang akan membuat suatu idealisasi mengenai pasangannya. Maksudnya adalah kita membuat suatu standar dari pasangan kita. Misalnya pacar saya suka memasak, namun rasanya tidak terlalu enak. Pikiran saya mengidealisasi kemampuan pacar saya tersebut, bahwa makanannya enak. Ketika nanti saya menikah, saya sudah memiliki suatu pemikiran bahwa pasangan saya memiliki cita rasa masakan yang enak, namun pada kenyataanya tidak seenak pemikiran. Tentunya penilaian kita yang awalnya 100 akan turun menjadi 70 misalnya. Itu akan mencegah suatu hubungan yang tidak langgeng. Karena kita memiliki suatu idealisasi mengenai pasangan kita. Jika penilaian kita turun, makan tidak akan terlalu jatuh drastis penurunannya.
·         Model-model hubungan interpesonal
1.       Model pertukaran sosial (social exchange model).
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya). 
2.       Model peranan (role model).
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
3.       Model permainan (games people play model).
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a)      Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
b)     Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c)      Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
4.       Model Interaksional (interacsional model).
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.

·         Memulai Hubungan
Pembentukan kesan dan Ketertarikan Interpersonal dalam memulai hubungan.
Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :
1.       Pembentukan.
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a)      informasi demografis.
b)     sikap dan pendapat (tentang orang atau objek).
c)      rencana yang akan datang.
d)     kepribadian.
e)      perilaku pada masa lalu.
f)       orang lain serta,
g)     hobi dan minat.
2.       Peneguhan Hubungan.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
a)      keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b)     Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c)      respon yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat).
d)     nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).
·         Intimasi dan Hubungan Pribadi
Pendapat beberapa ahli mengenai intimasi, di antara lain yaitu :
a)      Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
b)      Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
c)       Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
d)      Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e)      Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu
hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang
diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan
pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang
terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna
untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan
yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan
membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang harmonis dan langgeng.
Komunikasi yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling terbuka pun menjadi modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka jangan kaget apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan mulus atau selalu terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur. Tentu saja itu akan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun tidak pernah menginginkan hal berikut.
·         Intimasi dan Pertumbuhan
Factor-factor yang menumbuhkan hubungan interpersonal uang baik berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan.factor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain.Kejujuran, factor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi.amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif.Teori-teori tentang efek komunikasi yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pulahypodermic needle theory, teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut pada tahun 1970-an dan meminta kepada para pendukungnya yang menganggap teori ini tidak ada. Sebab khalayak yang menjadi sasaran media ini ternyata tidak pasif. Kemudian muncul teori model atau model efek terbatas, Hovland mengatakan bahwa pesan komunikan efectif dalam menyebarkan informasi, bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian Cooper dan Jahoda pun menunjukan bahwa persepsi selektif dapat mengurangi efektifitas sebuah pesan. Contoh : seorang gadis berjalan lenggak-lenggok seperti pragawati dan banyak pria terpana padanya sampai-sampai tak berkedip, itu merupakan pola S – R. Proses ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat menimbulkan efek untuk mengubah tindakan komunikasi (communication act). Model S – R mengasumsikan bahwa perilaku individu karena kekuatan stimulus yang dating dari luar dirinya, bukan atas dasar motif dan sikap yang dimiliki.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar