Hubungan
Interpersonal
Hubungan
interpersonal merupakan suatu hubungan yang menyatakan ketertarikan positif
dengan orang lain (Pychology Themes and Variations, Wayne Weiten). Ketertarikan
itu bukan hanya ketertarikan kepada pasangan saja, namun juga kepada keluarga,
teman, rekan kerja, dll. Kemarin sempat ada suatu diskusi yang cukup menarik
bagi saya pribadi. Ketika kuliah, kami disuruh menulis tiga orang yang memiliki
hubungan yang positif dengan kita. Salah satu teman saya menuliskan hubungannya
dengan Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah hubungan dengan Tuhan juga
merpakan hubungan interpersonal. Dari apa yang saya simpulkan, sebagian anak
dari kelas saya menyatakan bahwa hubungan dengan Tuhan juga merupakan hubungan
interpersonal. Karena mereka menganggap ada suatu hubungan timbal balik. Ketika
seseorang berdoa, maka Tuhan akan mengabulkan doa tersebut. Itulah yang mereka
anggap hubungan timbal balik. Karena salah satu ciri dari hubungan
interpersonal adalah adanya suatu timbal balik. Tapi menurut saya pribadi,
hubungan interpersonal tetaplah hubungan antar manusia yang ditimbulkan adanya
ketertarikan positif.
Ada
beberapa hal yang menyebabkan orang lain tertarik satu sama lainnya, antara
lain
1.
Ketertarikan secara fisik
Dalam
menjalin suatu hubungan interpersonal, sadar atau tidak poin ini merupakan poin
yang pertama. Bayangkan saja, apabila kita bertemu dengan seseorang, pasti yang
menjadi penilaian pertama kali adalah penampilan fisik. Pengalaman yang saya
peroleh juga menunjukan hal yang sama. Ketika saya memilih seorang pasangan,
saya akan melihat apa dan bagaimana cara berpenampilannya, cara berbicara, cara
menatap seseorang, cara bersikap, dll. Ketika point-point tersebut sudah cukup
baik di mata saya, saya akan meresponnya. Tentunya dengan respon yang positif.
Hal yang sama akan dilakukan ketika akan merekrut pegawai baru dalam suatu
perusahaan misalnya. Tidak mungkin orang yang akan bekerja di perusahaan
ternama akan diterima bekerja jika datang dengan pakaian yang robek-robek di sana
sini. Atau mungkin dandan dengan make up yang sangat tebal seperti orang yang
akan konser. Justru orang tersebut mungkin akan langsung di "black
list" atau bahkan langsung diperkenankan keluar dari ruangan. Faktor
ketertarikan secara fisik bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan orang
bisa tertarik satu sama lain. Namun salah satu faktor utama dan yang pertama
ketika orang lain bisa tertarik satu sama lain.
2.
Adanya kesamaan
Pernahkah
anda merasa tertarik dengan seseorang karena memiliki barang yang sama, sifat
yang sama, style fashion yang sama, tujuan yang sama, ataupun pekerjaan yang
sama? Entah dengan teman, pacar, ataupun rekan kerja? Jika pernah, berarti anda
memiliki ketertarikan dengan orang tersebut karena adanya kesamaan. Saya
memiliki cerita yang unik yang berkaitan dengan adanya kesamaan. Saya memiliki
teman yang saat ini saya anggap sebagai saudara sendiri. Awalnya kami adalah
teman biasa yang menjalani rutinitas seperti biasa. Jika bertemu kami hanya
akan bertegur sapa saja tanpa meluangkan waktu untuk mengobrol. Suatu saat kami
berada dalam kelompok yang sama dalam suatu mata kuliah. Sejak saat itu kami
mulai banyak mengobrol dan berdiskusi. Dan dari situlah kami mengetahui bahwa
kami memiliki minat yang sama dalam menjalankan suatu usaha. Dari situlah saya
memiliki hubungan yang baik dengannya sehingga saya menganggnya saudara
sendiri. Dari pengalaman yang saya peroleh menunjukan bahwa ketertarikan bisa
saja muncul dari adanya kesamaan antar orang.
3.
Efek timbal balik
Ketika
seseorang memberikan respon positif kepada kita, maka kita akan akan membalas
respon positif yang sama kepada orang tersebut. Itulah yang dinamakan efek
timbal balik.Dale Carniegie (1936) suggested that people can gain others’
liking by showering them with praise and flattery (Pychology Themes and
Variations, Wayne Weiten). Maksud dari Dale Carniegie adalah bahwa seseorang
mampu mendapatkan hati orang lain atau dengan kata lain orang lain juga
menyukai kita yaitu dengan memberikannya pujian dan sanjungan yang menunjukan
bahwa kita menyukainya. Kita dapat melihat fenomena ini pada anak bayi. Ketika
seorang pengasuh memberikan perhatian dan dapat memberikan kenyamanan pada si
bayi, maka bayi tersebut akan memiliki kedekatang khusus dengan pengasuh bayi
tersebut. Kebalikannya, jika pengasuh masa bodoh atau kurang peduli dengan si
bayi, maka ada penolakan dari si bayi. Penolakan tersebut entah tidak mau
didekati atau akan menangis jika diasuh oleh pengasuh tersebut. Contoh yang
lain dapat saya kaiatkan dengan pengalaman pribadi saya. Saya akan menyukai
seorang pria yang secara jantan menyatakan bahwa dia suka dengan saya. Dari
situ ada ketertarikan yang secara intens yang saya tujukan kepadanya.
4.
Romantic ideals
Saat
membahas mengenai sub bab ini, dapat dijelaskan bahwa seseorang akan membuat
suatu idealisasi mengenai pasangannya. Maksudnya adalah kita membuat suatu
standar dari pasangan kita. Misalnya pacar saya suka memasak, namun rasanya
tidak terlalu enak. Pikiran saya mengidealisasi kemampuan pacar saya tersebut,
bahwa makanannya enak. Ketika nanti saya menikah, saya sudah memiliki suatu
pemikiran bahwa pasangan saya memiliki cita rasa masakan yang enak, namun pada
kenyataanya tidak seenak pemikiran. Tentunya penilaian kita yang awalnya 100
akan turun menjadi 70 misalnya. Itu akan mencegah suatu hubungan yang tidak
langgeng. Karena kita memiliki suatu idealisasi mengenai pasangan kita. Jika
penilaian kita turun, makan tidak akan terlalu jatuh drastis penurunannya.
·
Model-model hubungan interpesonal
1. Model
pertukaran sosial (social exchange model).
Hubungan interpersonal
diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena
mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan
tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat
negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
2. Model
peranan (role model).
Hubungan interpersonal diartikan
sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai
naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu
bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role
demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik
peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan
dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan
peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah
kemampuan memainkan peranan tertentu.
3. Model
permainan (games people play model).
Model menggunakan pendekatan
analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan
individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam
permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a) Kepribadian
orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang
diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
b) Kepribadian
orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c) Kepribadian
anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak
yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
4. Model
Interaksional (interacsional model).
Model ini memandang hubungann
interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural,
integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran,
peranan dan permainan.
·
Memulai Hubungan
Pembentukan
kesan dan Ketertarikan Interpersonal dalam memulai hubungan.
Adapun
tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :
1. Pembentukan.
Tahap
ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah
menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak
yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap
informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali
secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada
kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini
informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat
tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles
R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh
kategori, yaitu:
a) informasi
demografis.
b) sikap
dan pendapat (tentang orang atau objek).
c) rencana
yang akan datang.
d) kepribadian.
e) perilaku
pada masa lalu.
f) orang
lain serta,
g) hobi
dan minat.
2. Peneguhan
Hubungan.
Hubungan
interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara
dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu
untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara
keseimbangan ini, yaitu:
a) keakraban (pemenuhan
kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b) Kontrol (kesepakatan
antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang
lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c) respon
yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai
komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu
memberikan feedback yang tepat).
d) nada
emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang
berlangsung).
·
Intimasi dan Hubungan Pribadi
Pendapat
beberapa ahli mengenai intimasi, di antara lain yaitu :
a) Shadily
dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang
didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
b) Sullivan
(Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku
penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang
lain.
c) Steinberg
(1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan
emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain,
keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih
bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
d) Levinger
& Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang
berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu.
Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang
berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi
lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan,
pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk
perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung
jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e) Atwater
(1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu
hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang
diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan
pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang
terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna
untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan
yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan
membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang
diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan
pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang
terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna
untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan
yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan
membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk
merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Dalam
suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan
intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan
atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan
maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan
langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan
kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan
tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang
harmonis dan langgeng.
Komunikasi
yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling terbuka pun menjadi
modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka jangan kaget
apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan mulus atau selalu
terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur. Tentu saja itu
akan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun tidak pernah
menginginkan hal berikut.
·
Intimasi dan Pertumbuhan
Factor-factor
yang menumbuhkan hubungan interpersonal uang baik berhubungan dengan orang lain
tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan.factor kedua yang menumbuhkan
sikap percaya pada diri orang lain.Kejujuran, factor ketiga yang menumbuhkan
sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi.amat besar
pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif.Teori-teori
tentang efek komunikasi yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan
pulahypodermic needle theory, teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki
kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu
apa-apa. Teori peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini
kemudian dicabut pada tahun 1970-an dan meminta kepada para pendukungnya yang
menganggap teori ini tidak ada. Sebab khalayak yang menjadi sasaran media ini
ternyata tidak pasif. Kemudian muncul teori model atau model efek terbatas,
Hovland mengatakan bahwa pesan komunikan efectif dalam menyebarkan informasi,
bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian Cooper dan Jahoda pun menunjukan
bahwa persepsi selektif dapat mengurangi efektifitas sebuah pesan. Contoh :
seorang gadis berjalan lenggak-lenggok seperti pragawati dan banyak pria
terpana padanya sampai-sampai tak berkedip, itu merupakan pola S – R. Proses
ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat menimbulkan efek untuk
mengubah tindakan komunikasi (communication act). Model S – R mengasumsikan
bahwa perilaku individu karena kekuatan stimulus yang dating dari luar dirinya,
bukan atas dasar motif dan sikap yang dimiliki.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar