A. KONSEP SEHAT
Istilah Kesehatan Mental diambil dari konsep mental hygiene, kata
mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata mental memilki
persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin yang berarti
Psikis atau Jiwa, jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental hygiene berarti
mental yang sehat atau kesehatan mental.
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial).
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial).
Definisi dari Jahoda mengandung istilah-istilah yang pengertiannya
perlu dipahami secara jelas yaitu penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri,
penilaian nyata tentang kehidupan dan keadaan diri sendiri.
Penyesuaiaan diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih
individu untuk mengolah rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam
maupun luar diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat
mental adalah penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu
berperan aktif dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu
tidak seperti binatang atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan
kata lain individu memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan.
B.
SEJARAH PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL
Problem kesehatan mental sebenarnya sudah ada sejak manusia sendiri
itu ada. Sejak dulu manusia tidak hanya mengalami sakit jasmani tetapi juga
merasakan kesedihan,tertekan dan putus asa. Dan tentu saja orang juga berusaha
untuk menyembuhkan sakit non-jasmaniahnya baik dengan cara yang rasional
misalnya dengan minta nasehat pada orang tua, orang yang dituakan atau dianggap
bijak dan dengan cara yang irasional dengan pergi ke dukun atau melakukan
penyembahan pada benda-benda yang dianggap keramat. Perkembangan kebudayaan,
tekhnologi dan ilmu pengetahuan mempengaruhi cara-cara orang untuk mengatasi
problem non jasmaniah yang semakin lama tumbuh menjadi ilmu pengetahuan
sendiri.
Pada tahun 1908 terbut sebuah buku yang sangat
terkenal dengan judul “A Mind That Found It Self”. Buku tersebut dikarang oleh
Clifford Whittingham Beers. Buku itu menceritakan pengalaman-pengalamannya saat
dirawat dibeberapa rumah sakit. Ia mendapatkan perawatan yang kejam dan tidak
berperikemanusiaan pada pasien dengan gangguan jiwa, hal tersebut disebabkan
oleh rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental.
Dari pengalamannya yang tidak menyenangkan selama dirawat itulah,
ia menyatakan bahwa keramah tamahan yang ditunjukkan kepadanya justru
memberikan dampak penyembuhan yang besar bagi dirinya. Clifford Wittingham
memberikan beberapa saran dalam usaha pencegahan terjadinya gangguan mental dan
perawatannya:
- Pembaruan dalam perawatan penderita
- Menyebarluaskan informasi untuk
merubah sikap terhadap pasien gangguan jiwa supaya lebih tepat dan manusiawi.
- Mendorong diadakannya penelitian
terhadap sebab-sebab dan perawatan terhadap sakit mental
- Mengembangkan usaha-usaha untuk mencegah gangguan mental.
Demikian hidup dan menarik buku Clifford Beers tersbut membuat
banyak orang tergerak hatinya untuk ikut serta dalam gerakan kesehatan mental.
Adolf Meyer mengusulkan usaha-usaha atau gerakan kesehatan mental itu disebut
Mental Hygiene yang secara harfiah berarti pemeliharaan kesehatan mental
(preservation of the health of the mind) kemudian pada tahun 1908 itu pula
didirikan Society for Mental Hygiene di Connecticut. Tahun berikutnya secara
formal dibentuk panitia nasional untuk kesehatan mental.
C.
PENDEKATAN KESEHATAN
MENTAL
v
Pendekatan Orientasi
Klasik
· Kesadaran tentang perlunya perlakuan yang lebih
manusiawi terhadap penyandang gangguan mental
· Pengertian Klasik mengandung
arti sempit, karena kajian ilmu kesehatan mental lebih diperuntukkan bagi orang
yang mengalami gangguan dan penyakit jiwa
· Penyembuhan konflik-konflik dan trauma masa lalu
v
Orientasi Penyesuaian Diri
· Mengacu pada kemampuan individu
untuk diri dengan diri sendiri dan norma sosial
· Belajar respon yang adaptif
v
Orientasi
Pengembagan Potensi
· Pelepasan sumber-sumber yang
tersembunyi dari bakat, kreativitas, energi dan dorongan
· Aktualisasi diri sesuai potensinya
Sumber :
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Para psikolog mempunyai pandangan yang berbeda di antara mereka
sendiri ketika mengartikan kepribadian. Sebagian besar dari mereka menyetujui
bahwa kata “Kepribadian “ ( Personality)berasal dari bahasa
Latin Persona, mengacu pada topeng yang di pakai oleh aktor Romawi dalam
pertunjukan drama Yunani.
Ø Aliran Psikoanalisa
Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut
Freud pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku
yang tidak normal atau menyimpang. Pandangan Freud secara lengkap adalah
sebagai berikut:
1. Kesadaran dan Ketidaksadaran
Sigmund Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri
dari: Kesadaran (the conscious) danKetidaksadaran ( the
unconscious).
2. Insting dan Kecemasan
Freud menyatakan insting terdiri dari insting untuk hidup
(life instinct) daninsting untuk mati (death instinct).
Ada delapan mekanisme pertahanan yang dikemukakan oleh Freud:
1). REPRESI
Represi terjadi kalau ada seseorang mengalami suatu peristiwa,
tetapi karena pengalaman itu ternyata mengancam atau bertentangan dengan super
ego, maka pengalaman tersebut ditekan atau direpres masuk kedalam
ketidaksadaran dan disimpan agar tidak mengancam super ego lagi.
2). PEMBENTUKAN REAKSI
Reaksi seseorang yang sebaliknya dari yang dikehendaki, agar tidak
melanggar ketentuan dari super ego.
3). PROYEKSI
Super ego melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap negatif
terhadap orang lain, maka ia berbuat seolah-olah orang lain yang mempunyai
perasaan atau sikap negatif terhadap dirinya.
4). DISPLACEMENT
Seseorang yang tidak dapat melampiaskan perasaan ke orang lain
karena hambatan dari super ego, maka ia akan melampiaskan perasaan tersebut
kepada pihak ketiga.
5). RASIONALISASI
Dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh super ego,
dicarikan dasar rationalnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah dapat
dibenarkan.
6). SUPRESI
Upaya menekankan sesuatu yang dianggap membahayakan atau
bertentangan dengan super ego kedalam ketidaksadarannya.
7). SUBLIMASI
Dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh super ego dialihkan
kedalam bentuk perilaku yang lebih sesuai dengan norma-norma masyarakat.
8). REGRESI
Pada saat libido melewati tahap perkembangan tertentu dimasa-masa
penuh stres dan kecemasan, libido bisa kembali ketahap sebelumnya. Ada beberapa
tingkat perkembangan , yaitu:
v
Fase Oral: Pada
fase ini kepuasan seksual terutama terdapat disekitar mulut.
v
Fase Anal: Pada
fase ini kira-kira usia dua tahun, daerah kepuasan seksual berpindah ke anus
(toilet training).
v
Fase
Phalic: Pada usia 6-7 tahun kepuasan seksualnya terdapat pada alat
kelamin.
v
Fase
Latent: Pada anak usia 7-8 tahun sampai menginjak awal masa remaja,
seolah-olah tidak ada aktivitas seksual.
v
Fase
Genital: Dimulai sejak masa remaja; segala kepuasan seks terutama berpusat
pada alat kelamin.
Ø Aliran Behavioristik
1. Juan Petrovich
Pavlov (1849-1936)
Pavlov ingin meneliti psikologi
secara objektif, yaitu dapat diobservasi secara nyata, karena menurut
mereka kesadaran tidak dapat diobservasi secara langsung.
2. Edward Lee Thorndike
(1874-1949)
Thorndike merupakan tokoh yang mengadakan
penelitian tentang animal psychology.
3. Burrhus Frederick
Skinner (1994-1990)
Skinner mengadakan suatu percobaan yang
disebut prose kondisioning operant.
4. John B. Watson
(1878-1958)
Menurut Watson psikologi itu murni
merupakan cabang dari pengetahuan alam eksperimental. Yang dipelajari
adalahperilaku yang diamati, bukan kesadaran karena merupakan pengertian yang
meragukan.
Ø Aliran Humanistik
Abraham Maslow (1908-1970) dapat
dipandang sebagai bapak dari psikologi Humanistik.
Psikologi Humanistik mulai di Amerika
Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Maslow menjadi terkenal karena
teori motivasinya, yang dituangkan dalam bukunya “Motivation and Personality”.
Dalam buku tersebut diuraikan bahwaa pada manusia terdapat lima macam kebutuhan
yang berhirarki, meliputi:
1. Kebutuhan-kebutuhan
fisiologis
2. Kebutuhan-kebutuhan
rasa aman
3. Kebutuhan rasa cinta
dan memiliki
4. Kebutuhan akan
penghargaan
5. Kebutuhan akan
aktualisasi diri
Sumber :
- Dr. A.M. Heru Basuki, Msi “PSIKOLOGI
UMUM“ Universitas Gunadarma.
- Feist, G&J “Theories of
Personality “ Salemba Humanika; Jakarta
PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN PERSONAL
1. Penyesuaian
Diri
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan
istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa
penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian
diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas
(conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada
mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal
adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik,
fisiologis, atau biologis.
Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang
mencakup konformitas terhadap suatu norma.
Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai
usaha penguasaan (mastery), yaitu
kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara
tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
Penyesuaian diri memiliki karakteritistik yang dapat diamati.
Karakteristik penyesuaian diri dapat dibedakan menjadi penyesuaian diri positif
(normal) dan penyesuaian diri negatif (abnormal). Tidak selamanya individu
berhasil melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan
tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri.
Ada individu-individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara
positif, namun ada pula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang
salah
·Penyesuaian Diri Secara Positif
Individu yang mampu melakukan penyesuaian diri secara positif
ditandai hal- hal sebagai berikut :
- Tidak menunjukkan adanya
ketegangan emosional
- Tidak menunjukkan adanya
mekanisme-mekanisme psikologis
- Tidak menunjukkan adanya
frustasi pribadi
- Memiliki pertimbangan rasional
dan pengarahan diri
- Mampu dalam belajar
- Menghargai pengalaman
- Bersikap realistik dan
objektif.
Individu akan melakukan penyesuaian diri secara positif dalam
berbagai bentuk, antara lain:
- Penyesuaian dengan menghadapi
masalah secara langsung, yaitu secara langsung menghadapi masalah dengan segala
akibatnya dan melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi
individu.
- Penyesuaian dengan melakukan
eksplorasi (penjelajahan), yaitu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat
menghadapi dan memecahkan masalah individu.
- Penyesuaian dengan trial and
error (coba-coba), yaitu melakukan tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan
diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan.
- Penyesuaian dengan substitusi
(mencari pengganti)
- Penyesuaian dengan menggali
kemampuan diri, yaitu individu menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam diri,
dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri.
- Penyesuaian dengan belajar,
yaitu menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari belajar
untuk membantu penyesuaian diri.
- Penyesuaian dengan inhibisi
dan pengendalian diri, yaitu memilih tindakan yang tepat dan mengendalikan diri
secara tepat dalam melakukan tindakannya.
- Penyesuaian dengan perencanaan
yang cermat, yaitu mengambil keputusan setelah dipertimbangkan segi untung dan
ruginya.
·Penyesuaian Diri yang Salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat
mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah, yang ditandai dengan
berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap
yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya.
Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah, yaitu:
- Reaksi Bertahan (Defence
reaction), yaitu individu berusaha untuk memperthankan dirinya, seolah-olah
tidak mengahadapi kegagalan dan selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya tidak
mengalami kegagalan dengan melakukan rasionalisasi, represi, proyeksi, dan
sebagainya.
- Reaksi menyerang (Aggressive
Reaction), yaitu menyerang untuk menutupi kesalahan dan tidak mau menyadari
kegagalan, yang tampak dalam perilaku selalu membenarkan diri sendiri, mau
berkuasa dalam setiap situasi, kera kepala dalam perbuatan, menggertak baik
dengan ucapan dan perbuatan, menunjukkan sikap permusuhan secra terbuka, dan
sebagainya.
- Reaksi Melarikan Diri, yaitu
melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, yang tampak dalam
perilaku berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, regresi,
dan sebagainya.
2. Pertumbuhan Personal
Life is not advancement. It is growth. It does not move
upward, but expands outward, in all directions.” (Russell G. Alexander ,
Father, Human Being, Recovering Philosopher, 1954)
Kalimat diatas sangat menarik jika kita berbicara tentang
pertumbuhan diri (Personal Growth), karena pertumbuhan diri pada
hakekatnya adalah pengembangan kualitas hidup dalam semua aspek yang
saling terkait satu dengan yang lainnya. Pertumbuhan di salah satu aspek hidup
mempengaruhi pertumbuhan di aspek hidup yang lain. Karena itu pertumbuhan
diri haruslah dipahami dan dihayati sebagai sebuah kehidupan yang terintegrasi,
dan bukan bukan terpisah-pisah.
Secara natur manusia harus bertumbuh dan
berkembang. Kapabilitas dan kapasitasnya harus terus-menerus diasah untuk
agar mampu memberdayakan kehidupannya dan alam sekitarnya menjadi lebih
berkualitas.
Pertama, bahwa pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses
transformasi hidup. Perubahan atau transformasi ini terjadi
melalui pembaharuan akal budi dan pikiran manusia. Tujuannya agar
manusia memiliki kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan
tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi akal budi dan pikiran
tersebut dimaksud untuk mendorong perubahan kualitas hidup manusia.
Kedua, bahwa kita harus mengembangkan apa yang dipercayakan
Tuhan kepada kita. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita, haruslah kita
kembangkan secara optimal sebagai bentuk pertanggungjawaban kepda
Tuhan. Bukan masalah barapa banyak talenta yang kita miliki, tetapi apakah
kita mengasah, melatih, dan mengembangkannya dengan baik seluruh talenta yang
dipercayakan kepada kita.
Ketiga, prinsip pertumbuhan selalu dikaitkan dengan kualitas.
Bertumbuh berarti menghasilkan kualitas yang baik, dan sebaliknya. Karena itu
prinsip “bekerja dan mengusahakan yang terbaik” adalah esensi dari prinsip
pertumbuhan ini.
Keempat, prinsip pertumbuhan diri haruslah didasarkan pada:
kasih kepada Allah dan kepada manusia. Esensi dari prinsip ini adalah
bahwa pertumbuhan diri tidak boleh bersifat egoistis. Tidak hanya untuk
kepentingan diri sendiri, tetapi supaya bisa melayani orang lain secara
optimal dalam berbagai bidang kehidupan kita.
Keempat prinsip inilah landasan kita dalam
perencanaan pertumbuhan diri kita. Proses bertumbuh adalah proses
sepanjang kehidupan kita. Pribadi yang bertumbuh dan berkualitas adalah
pribadi yang dibentuk melalui proses panjang dalam kehidupan. Diperlukan
mentalitas pembelajaran diri (self learning) dalam proses ini.
3.
Pembelajaran Diri
Pembelajaran diri dapat di gambarkan melalui 3 unsur dalam segi
tiga pertumbuhan berikut.
Unsur pertama adalah tujuan atau visi hidup. Ini
sangat fundamental jika kita berbicara tentang pembelajaran
diri. Tanpa visi atau tujuan hidup tidak mungkin ada upaya
pembelajaran, karena tidak ada hal yang dituju dan dikejar dalam
kehidupan. Kita perlu memiliki visi dan tujuan kehidupan, karena itulah
yang akan memandu perjalanan kehidupan kita.
Unsur kedua adalah peluang, tantangan dan perubahan yang
ada di sekitar kita. Kita selalu berhadapan dengan perubahan-perubahan di
sekitar kita. Perubahan itu bisa menjadi peluang dan tantangan bagi kita untuk
belajar, bertumbuh, dan berkembang. Bagaimana sikap kita dalam
berespon terhadap tantangan dan peluang tersebut sangat menentukan
pengembangan diri kita.
Unsur ketiga adalah sumber daya yang dimiliki. Setiap orang
punya resourcesdasar yang dimilikinya: bakat, talenta, kecerdasan,
kompetensi dan lain-lain. Ada yang dipercayakan banyak, ada yang sedikit.
Tetapi faktor sumberdaya ini bukanlah faktor dominan yang menjadi penentu
dalam proses pertumbuhan kita. Ada pengikat ketiga unsur tersebut dalam
proses pembelajaran diri, yaitu pola pikir (mind set)
Mind set adalah pola pikir yang terkait dengan kepercayaan dasar
yang kita miliki. Ia akan mempengaruhi sikap, perilaku, dan
tindakan kita. Segala sesuatu dimulai dari proses kita berpikir.
Mind set perlu dibentuk melalui berbagai aktivitas yang
mendukungnya. Pola pikir kita harus diberikan “nutrisi” yang tepat agar sehat,
jernih, dan optimal. Aktivitas apa yang positif dalam membentuk mind set
kita?
Pertama, kita perlu belajar dari buku sumber hikmat dan kehidupan,
yaitu kitab-kitab yang menjadi sumber kepercayaan kita sebagai orang beriman.
Tidak saja untuk memahami dan mempelajarinya, namun sampai kepada
tindakan menghayati dan melakukannya. Firman Tuhan dalam kitab-kitab
tersebut kaya akan kebenaran yang bisa memandu kita dalam berpikir,
berperilaku, dan bertindak
Kedua, membaca buku-buku yang baik dan berkualitas
akan berguna untuk: membentuk cara pandang kita dalam melihat berbagai
persoalan; mempeluas wawasan berpikir kita; dan merubah cara berpikir
kita.
Ketiga, melatih pikiran kita melalui proses berdiskusi
dengan berbagai orang atau komunitas di sekitar kita agar terbentuk mind set
yang positif dan kritis. Pikiran yang terlatih akan membentuk mind set yang
baik.
Keempat, belajar kepada orang-orang yang memiliki wawasan dan
pengetahuan yang lebih dibandingkan kita. Proses belajar ini bisa melalui
berbagai cara : mendengarkan ceramah, membaca tulisan-tulisan mereka,
berinteraksi secara positif dengan mereka, dan sebagainya. Jangan pernah malu
untuk bertanya hal yang kita tidak tahu.
Jika kita melakukan tindakan-tindakan sederhana ini, maka kita
sedang melatih mind set kita dengan benar.
Bagaimana merencanakan pertumbuhan diri?
Pertumbuhan diri adalah sebuah proses yang seharusnya bisa
direncanakan. Peningkatan kualitas dan kapabilitas kehidupan kita bisa jadi
adalah hasil dari sebuah proses yang terjadi secara tidak terencana maupun
terencana. Namun merencanakan pertumbuhan diri akan memiliki dampak yang lebih
terukur dan berkesinambungan. Bagaimana caranya?
1. Memulai dengan identifikasi: Peluang-peluang apa saja yang dapat
kita gunakan untuk berkembang hari ini? Untuk diri kita?
Profesi kita? Untuk orang orang di sekitar kita? Kelemahan-kelemahan
apakah yang perlu kita tingkatkan (berkaitan dengan profesi, karakter,
kompetensi, ketrampilan dan sebagainya)?
2. Menyusun sebuah rencana. Kapan, dimana, dan
bagaimana saya akan memulai rencana kita? Rencana ini perlu dibuat secara
terukur dan bisa dievaluasi dan diidentifikasi kemajuannya.
3. Jika menemui rintangan dan kemunduran, maka pikirkan
dan renungkan apa yang menjadi kendala, kesulitan, dan masalahnya. Jika kita
sudah menemukannya, maka susun lagi rencana tindakan: Kapan, dimana, dan
bagaimana kita akan melaksanakan rencana kita?
4. Jika berhasil, pikirkan untuk mempertahankannya Apa
yang harus kita lakukan untuk mempertahankan dan melanjutkan perkembangan dan
keberhasilan kita? Setiap upaya peningkatan kapabilitas kita, perlu
dipertahankan agar terus menghasilkan keluaran dan dampak positif dalam
kehidupan kita.
5. Proses perencanaan ini harus selalu dilakukan
evaluasi dengan meminta umpan balik dari orang lain.
Sumber:
1.
http://esbede.wordpress.com/tag/personal-development
3.
http://www.psychologymania.com/2012/09/karakteristik-penyesuaian-diri.html
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT BEBERAPA TOKOH
Ø
Allport: Ciri-ciri
Kepribadian Yang Matang
Kepribadian yang matang lebih dapat termotivasi oleh proses sadar
daripada kepribadian yang terganggu, yang membuat mereka menjadi lebih
fleksibel dan mandiri dibanding pribadi yang tidak sehat, yang akan tetap
terdominasi oleh motif-motif tidak sadar yang berasal dari pengalaman masa
kecil mereka.
Ada enam kepribadian yang matang menurut Allport:
1. Perluasan Perasaan Diri: Pribadi
yang matang terus mencari untuk dapat mengidentifikasi diri dan berpartisipasi
dalam kejadian yang terjadi di luar diri mereka.
2. Hubungan yang Hangat dengan Orang Lain:
Mereka mempunyai kapasitas untuk mencintai orang laindalam
cara-cara yang intim dan simpatik dengan orang lain. Hubungan yang hangat
sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk memperluas perasaan diri
mereka. Hanya dengan melihat jauh kedepan, manusia dapat mencintai orang lain
dengan cara yang dewasa, tanpa posesif maupun egois.
3. Keamanan emosional atau penerimaan Diri:
Pribadi yang matang menerima diri mereka apa adanya, dan memiliki apa yang
disebut sebagai keseimbangan emosional. Sifat dari kepribadian yang sehat ini
meliputi beberapa kualitas; kualitas utama adalah penerimaan diri.
4. Persepsi yang Realistis: Mereka tidak
hidup di dalam dunia fantasi atau membelokkan kenyataan agar sesuai dengan
harapan mereka. Mereka berfokus pada masalah dibanding pada pribadi, dan lebih
berinteraksi dengan dunia seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang.
5. Insight dan Humor: Pribadi yang matang
mengenal dirinya sendiri, sehingga tidak mempunyai kebutuhan untuk
mengatribusikan kesalahan dan kelemahannya kepada orang lain. Allport yakin
bahwa insight dan humor sangat berhubungan, serta mungkin merupakan aspek-aspek
dari hal yang sama, yaitu pemahaman diri ( self-objectication ).
6. Filosofi Kehidupan yang Integral: Manusia
yang sehat mempunyai pandangan yang jelas mengenai tujuan hidup mereka.
Filosofi kehidupan yang integral dapat berupa sesuatu yang bersifat religius
ataupun tidak, tetapi dalam tahap personal, Allport kelihatannya telah
merasakan bahwa orientasi religius yang matang merupakan komposisi yang penting
dalam kehidupan pribadi yang sangat matang.
Ø
Rogers: Perkembangan
Kepribadian
Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian
sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“
merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti
dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan
sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“
dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self
concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang
berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.
Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep
diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau
tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
1. Incongruence
Adalah ketidakcocokan antara self yang
dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
2. Congruence
Adalah situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama
dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang
memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju
pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang
pengalamannya.
Rogers menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya
sebagai berikut :
1. Keterbukaan pada pengalaman (openess to experience)
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua
pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan
demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positif maupun
negatif.
2. Kehidupan Eksistensial (existential living)
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap
pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu
berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman
selanjutnya.
3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri (organismic
trusting)
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri
terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut
apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat
mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.
4. Perasaan Bebas (experiental freedom)
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan
tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan.
Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai
kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak
pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan
dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.
5. Kreativitas (creativity)
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada
organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas
dengan ciri – ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh,
dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka
ragam di sekitarnya.
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri.
Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak
– kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning,
penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan
mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik.
Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar
khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan
dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi)
seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke
psikologis.
Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat
menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan
berbeda tergantung pada pengalaman-pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman
ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima
istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.
Ø
Maslow: Hierarki
kebutuhan Individual
Hierarki kebutuhan yang diungkapkan Maslow beranggapan bahwa
kebutuhan-kebutuhan dilevel rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup
terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan dilevel lebih
tinggimenjadi hal yang memotifasi.
Ada lima kebutuhan yang membentuk hierarki:
1. Kebutuhan fisiologis
Pada dasarnya, manusia harus memenuhi kebutuhan fisiologisnya untuk
dapat bertahan hidup. Pada hirarki yang paling bawah ini, manusia harus
memenuhi kebutuhan makanan, tidur, minum, seks, dan hal-hal lainnya yang
berhubungan dengan fisik badan. Bila kebutuhan dasar ini belum terpenuhi, maka
manusia akan mengalami kesulitan untuk berfungsi secara normal.
2. Kebutuhan Keamanan (safety)
Pada hirarki tingkat kedua, manusia membutuhkan rasa keamanan dalam
dirinya. Baik keamanan secara harfiah (keamanan dari perampok, orang jahat, dan
lain-lain), maupun keamanan secara finansial ataupun hal lainnya. Dengan
memenuhi kebutuhan keamanan tersebut, dapat dipastikan bahwa kebutuhan manusia
dapat berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu kebutuhan kasih sayang dan sosial.
3. Kebutuhan kasih sayang / sosial (Love/belonging)
Setelah memenuhi 2 kebutuhan yang bersifat individu, kini manusia
menapaki kebutuhan untuk diterima secara sosial. Emosi menjadi “pemain” utama
dalam hirarki ketiga ini. Perasaan menyenangkan yang dimiliki pada saat kita
memiliki sahabat, seseorang untuk berbagi cerita, hubungan dekat dengan
keluarga adalah tujuan utama dari memenuhi kebutuhan sosial ini.
4. Kebutuhan Percaya Diri (Esteem)
Semua orang pasti ingin dihormati dan ingin merasa berguna bagi
orang lain. Kebutuhan semacam ini tertuang pada hirarki pada tahap keempat
dalam piramid Abraham Maslow. Kebutuhan untuk percaya diri ini biasanya muncul
setelah ketiga kebutuhan yang lebih mendasar sudah terpenuhi, meskipun tidak
menutup kemungkinan bahwa kebutuhan semacam ini dapat muncul tanpa harus
memenuhi ketiga kebutuhan yang lebih mendasar.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization)
Umumnya, kebutuhan ini akan muncul bila seseorang merasa seluruh
kebutuhan mendasarnya sudah terpenuhi. Pada hirarki ini, biasanya seseorang
akan berhadapan dengan ambisi untuk menjadi seseorang memiliki kemampuan lebih.
Seperti mengaktualisasikan diri untuk menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu
tertentu, atau hasrat untuk mengetahui serta memenuhi ketertarikannya akan
suatu hal.
Ø
Erich Fromm:
Ciri-ciri kepribadian yang sehat
Kepribadian yang sehat menurut Erich Fromm adalah pribadi yang
produktif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya.
Kepribadian yang sehat menurut Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola
hubungan yang sehat (konstruktif), bukan atas dasar ketergantungan ataupun
kekuasaan dalam hubungan dengan orang lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi
(kebutuhan untuk melebihi peran-peran pasif, melampaui perasaan tercipta
menjadi pencipta yang aktif-kreatif). Perasaan berakar yang diperoleh melalui
persaudaraan dengan sesama umat manusia, perasaan keterlibatan, cinta,
perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan identitas sebagai
individu yang unik. Memiliki kerangka orientasi (frame of reference) yang
mendasari interpretasinya yang objektif terhadap berbagai peristiwa.
Ada 4 segi tambahan dari kepribadian sehat yaitu cinta, pikiran,
kebahagiaan, dan suara hati yang produktif. Cinta yang produktif adalah cinta
yang memperhatikan serta membantu pertumbuhan dan perkembangan orang lain.
Pikiran yang produktif adalah pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan
mempelajarinya secara keseluruhan, bukan hanya dalam potongan-potongan. Suara
hati yang produktif adalah suara hati yang memimpin dan mengatur diri sendiri.
Cinta yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat
dimana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka. Diri orang
tidak terserap atau hilang dalam cinta terhadap orang lain. Diri tidak
berkurang dalam cinta produktif, melainkan diperluas, dibiarkan terbuka
sepenuhnya. Suatu perasaan akan hubungan tercapai, tetapi identitas dan
kemerdekaan seseorang terpelihara Cinta yang produktif itu merupakan suatu
kegiatan dan bukan suatu nafsu. Cinta yang produktif tidak terbatas pada cinta
yang erotis, tetapi mungkin merupakan cinta persaudaraan. Tercapainya cinta
yang produktif merupakan salah satu dari prestasi-prestasi kehidupan yang lebih
sulit. Mencintai orang-orang lain berarti memperhatikan (dalam pengertian
memelihara mereka) kesejahteraan mereka, membantu pertumbuhan dan perkembangan
mereka. Mencintai berarti memikul tanggung jawab untuk orang-orang lain. Fromm
mengingatkan bahwa cinta yang produktif ini sukar dicapai. Pikiran yang
produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang
produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pikiran
yang produktif berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajari dan bukan pada
kepingan-kepingan atau potongan-potongan gejala yang terpisah. Fromm percaya
bahwa semau penemuan dan wawasan yang hebat pasti melibatkan pikiran objektif.
Kebahagiaan merupakan suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan
dengan orientasi produktif. Kebahagiaan bukan karena suatu perasaan atau
keadaan yang menyenangkan melainkan kondisi yang meningkatkan seluruh
organisme, menghasilkan penambahan gaya hidup, meningkat kesehatan fisik, dan
pemenuhan potensi-potensi seseorang. Fromm menyatakan bahwa suatu perasaan
kebahagiaan merupakan bukti bagaimana keberhasilan seseorang ”dalam seni
kehidupan”. Suara hati ada dua tipe suara hati, yaitu suara hati otoriter dan
suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang
diinternalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Apabila orang itu
bertingkah laku berlawanan dengan kode moral itu (atau bahkan berpikir untuk
bertingkah laku demikian), maka dia mengalami perasaan bersalah. Jadi ’wasit’
dari tingkah laku dan pikiran terletak diluar diri dan bertindak untuk
menghalangi fungsi dan pertumbuhan yang penuh dari diri.
Sumber:
Schultz. D. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: PENERBIT
KANISIUS.
Feist. J&G. Teori Kepribadian 1 dan 2. Jakarta: SALEMBA
HUMANIKA
http://psikology09b.blogspot.com/2010/11/makalah-psi-kep-carl-rogers.html
http://pewepujasera.blogspot.com/2011/03/kepribandian-sehat-menurut-erich-fromm.html
Pengertian Sehat
Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai
untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati
pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali
oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan
orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang
dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan
yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal.
Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah
demikian. Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960,
Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani
(mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian
sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut OrganisasiKesehatan Dunia (WHO) tahun 1975
sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis
penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.
Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau usia
lanjut, berlaku arti produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosialekonomi bagi siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai
prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut
atau para pensiunan adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang
bermanfat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat.
Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan
tingkat kesehatanseseorang, kelompok atau masyarakat.
Itulah sebabnya, maka kesehatan
bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing
aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:
1. Kesehatan
fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan
mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan
spiritual.
• Pikiran sehat tercermin dari
cara berpikir atau jalan pikiran.
•Emosional sehat tercermin dari
kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira,
kuatir, sedih dan sebagainya.
• Spiritual sehat tercermin dari
cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan
sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa
(Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual
dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
Dengan perkataan lain, sehat
spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan
agama yang dianutnya.
3. Kesehatan
sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau
kepercayan, status sosial,ekonomi,
politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat
bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang
menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau
keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau
mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak
berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif
secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagikehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa
atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan
kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.
1. Arti
penting stress
Stress merupakan suatu keadaan
tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Dapat dikatakan juga stress
adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan,
ketegangan emosi, dan lain-lain.
GAS (General Adaptation Syndrom)
merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. Respon yang
terlibat didalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin.
· Efek-efek
stress menurut Hans Selye
Menurut Hans Selye, “Stress adalah
respon manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan
yang ada dalam dirinya.”
Biasanya yang menyebabkan diri
individu mengalami stress berasal dari keadaan atau kondisi keluarga,seperti
salah pola asuh, broken home, keadaan ekonomi yang sulit, serta kurangnya
kecocokan dengan aturan keluarga. Itu semua hanya sebagian kecil faktor
individu yang menyebabkan stress.
· Faktor-faktor
individual dan social yang menjadi penyebab stress
Seseorang mengalami stress bukan
hanya karena faktor individu saja, melainkan dikarenakan faktor sosialnya juga.
Faktor sosial yang dimaksud seperti disebabkan karena bencana alam (gempa bumi,
tsunami, longsor, banjir, kebakaran, dan lain-lain). Karena sebab-sebab itulah
biasanya individu tersebut merasakan goncangan yang sangat kuat dan jika
individu tersebut tidak bias terima keadaan tersebut maka akan menyebabkan
seseorang mengalami stress.
2. Tipe-tipe Stress
Tipe-tipe stress terbagi menjadi empat,
yaitu :
a) Tekanan
– konflik
- Tekanan
Biasanya tekanan muncul tidak
hanya dalam diri sendiri, mealinkan di luar diri juga. Karena biasanya apa yang
menjadi pandangan kita terkadang bertentangan dengan pandangan orang tua, itu
yang terkadang menjadi salah satu tekanan psikologis bagi seorang anak yang
akan menimbulkan stress pada anak tersebut.
- Konflik
Perbedaan pendapat, perbedaan cara
pandang bahkan perbedaan pandangan dalam mencapai suatu tujuan itu akan
menimbulkan koflik. Biasanya tidak hanya konflik dengan diri sendiri, banyak
juga konflik ini terjadi antar beberapa orang, kelompok, bahkna organisasi.
b) Frustasi – kecemasan
- Frustasi
Suatu kondisi psikologis yang
tidak menyenangkan sebagai akibat terhambatnya seseorang dalam mencapai apa
yang diinginkannya.
- Kecemasan
Khawatir, gelisah, takut dan
perasaan semacamnya itu merupakn suatu tanda atau sinyal seseorang mengalami
kecemasan. Biasanya kecemasan di timbulkan karena adanya rasa kurang nyaman,
rasa tidak aman atau merasa terancam pada dirinya.
c. Pendekatan problem solving
terhadap stress
Proses mental dan intelektual
dalam menemukan masalah dan memecahkan masalah berdasarkan data dan informasi
yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang cermat dan akurat. Atau
ketika kita mendapatkan masalah dan membuat kita stress, lebih baik kita berdoa
dan memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa.
Strategi coping yang spontan
mengatasi stress
Menurut Lazanus, penanganan stress
atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
- Problem-Pocused
Coping (coping yang berfokus pada masalah)
Penanganan stress atau coping yang
digunakan oleh individu yang mengahadapi masalahnya dan berusaha
menyelesaikannya.
- Emotional-Pocused
Coping (coping yang berfokus pada emosi)
Penanganan stress dimana individu
memberikan respon terhadap situasi stress dengan cara emosional, terutama
dengan penilaian defensive.
Sumber:
COPING STRESS
A. Pengertian dan jenis-jenis coping
1. Pengertian coping
Coping berasal dari katacoping yang bermakna harfiah
pengatasan/penanggulangan (to cope with = mengatasi, menanggulangi). Coping
itu sendiri dimaknai sebagai apa yang di lakukan oleh individu untuk menguasai
situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/luka/kehilangan/ ancaman. Jadi
koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan
yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi.
Coping yang efektif umtuk dilaksanakan adalah coping yang
membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak
merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (lazarus dan folkman).
Coping stress menurut Taylor (dalam Smet, 1994) adalah suatu proses
dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutantuntutan
(baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari
lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi
situasi stressful.
Lazarus & Folkman pada tahun 1984 menggambarkan coping sebagai
:
“...Suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang
ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu
maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang
mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful....”
2. Jenis-jenis coping
Lazarus membagi koping menjadi dua jenis, yaitu:
a. Tindakan langsung (Direct Action)
Coping jenis ini adalah setiap setiap usaha tingkah laku yang
dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau
tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan.
Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia
melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami.
Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung:
a) Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk
menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara
langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan
bahaya tersebut.
b) Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan
menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila
individu merasa/menilai dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang
mengancam tersebut.
c) Penghindaran (avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih
berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau
menghindari atau melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut.
d) Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati
dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu
saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun
melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut.
b. Peredaan atau peringanan (Palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/menghilangkan/ menoleransi
tekanan-tekanan kebutuhan/fisik, motorik atau gambaran afeksi dari tekanan
emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah.Ada 2 macam koping
jenis peredaran/palliation :
a) Diarahkan Pada Gejala (Sympton Directed
Modes)
Digunakan bila gangguan gejala-gejala gangguan muncul dari diri
individu, kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan
yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman
tersebut.
b) Cara Intrapsikis (Intrapsychic Modes)
Menggunakan perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan
istilah defense mechanism (mekanisme pertahanan diri).
Emotion-focus coping
Digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap
stress.Pengaturan ini melalui perilaku individu,seperti penggunaan
alkohol,bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan melalui
strategi kognitif.Bila individ tidak mampu mengubah kondisi yang
stressful,individu akan cenderung untuk mengatur emosinya.
Problem-focused coping.
Untuk mengurangi stressor,individu akan mengatasi dengan
mempelajari cara-cara atau keterampilan yang baru.Individu akan cenerung
menggunakan strategi ini bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi.Metode
atau fungsi masalah ini lebih sering digunakan oleh orang dewasa.
Lazarus & Folkman (1986) mengidentifikasi berbagai jenis
strategi coping, baik secara problem-focused maupun emotion-focused, antara
lain :
1) Planful problem solving yaitu usaha untuk mengubah situasi, dan
menggunakan usaha untuk memecahkan masalah.
2) Confrontive coping yaitu menggunakan usaha agresif untuk
mengubah situasi, mencari penyebabnya dan mengalami resiko.
3) Seeking social support yaitu menggunakan usaha untuk mencari
sumber dukungan informasi, dukungan sosial dan dukungan emosional.
4) Accepting responsibility yaitu mengakui adanya peran diri
sendiri dalam masalah.
5) Distancing yaitu menggunakan usaha untuk melepaskan dirinya,
perhatian lebih kepada hal yang dapat meciptakan suatu pandang positif.
6) Escape-avoidance yaitu melakukan tingkah laku untuk lepas atau
menghindari.
7) Self-control yaitu menggunakan usaha untuk mengatur
tindakan dan perasaan diri sendiri. Positive reappraisal yaitu menggunakan
usaha untuk menciptakan hal-hal positif dengan memusatkan pada diri sendiri dan
juga menyangkut religiusitas.
B. Jenis jenis coping yang konstruktif dan positif
1) Coping yang konstruktif (adaptif)
Merupakan suatu kejadian dimana individu dapat mengatur berbagai
tugas mempertahankan konsep diri, mempertahankan hubungan dengan orang lain,
mempertahankan emosi dan pengaturan stres (Carpenito, 2000).
2) Coping positif (sehat)
a. Antisipasi
Antisipasi berkaitan dengan kesiapan mental individu untuk menerima
suatu perangsang. Ketika individu berhadap dengan konflik-konflik emosional
atau pemicu stres baik dari dalam maupun dari luar, dia mampu mengantisipasi
akibat-akibat dari konflik atau stres tersebut dengan cara menyediakan
alternatif respon atau solusi yang paling sesuai.
b. Afiliasi
Afiliasi berhubungan dengan kebutuhan untuk berhubungan atau
bersatu dengan orang lain dan bersahabat dengan mereka. Afiliasi membantu
individu pada saat menghadapi konflik baik dari dalam dan luar, dia mampu
mencari sumber- sumber dari orang lain untuk mendapatkan dukungan dan
pertolongan.
c. Altruisme
Altruisme merupakan salah satu bentuk koping dengan cara
mementingkan kepentingan orang lain. Konflik-konflik yang memicu timbulnya
stres baik dari dalam maupun dari luar diri dialihkan dengan melakukan
pengabdian pada kebutuhan orang lain.
d. Penegasan diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu
stres dengan cara mengekspresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya
secara lengsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang
lain.
e. Pengamatan
diri (Self observation)
Pengamatan diri sejajar dengan introspeksi, yaitu individu
melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran diri atau
mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, ciri, sifat sendiri, dan
seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin
mendalam.
Sumber :
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep,
Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi Sunaryo. 2002.
Basuki,A.M Heru.2008.Psikologi
Umum.Jakarta:Universitas Gunadarma
Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
a. Pengertian dan
Konsep diri
Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh
individu dalam mengenal lingkungan yang baru. Menurut Schneider (dalam
Partosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan
kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis
yang tepat. Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian
dapat didefenisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri
individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu. Menurut
pandangan para ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi
individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik mengingat individu secara
konstan juga mempengaruhi kedua faktor lain. Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis
yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang
lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian
tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk
membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan
lingkungannya.
Menurut
Schneiders (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditiinjau dari tiga sudut
pandang, yaitu:
- Penyesuaian sebagai adaptasi --- Menurut pandangan ini, penyesuaian
diri cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik,
bukan penyesuaian dalam arti psikologis, sehingga ada kompleksitas
kepribadian individu dengan lingkungan yang terabaikan.
- Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas --- Penyesuaian diri
diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu
norma. Pengertian ini menyiratkan bahwa individu seakan-akan mendapat
tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan
perilaku, baik secara moral, sosial maupun emosional. Menurut sudut
pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan
diri individu akan terancam tertolak jika perilaku individu tidak sesuai
dengan norma yang berlaku.
- Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan --- Penyesuaian diri
dipandang sebagai kemampuan untuk merencakan dan mengorganisasikan respons
dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan dan frustasi
tidak terjadi, dengan kata lain penyesuaian diri diartikan sebagai
kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan emosi dan
kebiasaan menjadi terkendali dan terarah.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah proses dinamik
dalam interaksi individu dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang
mencakup respon-respon mental dan perilaku untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan
internal, ketegangan, frustasi, konflik dan mencapai keselarasan antara
tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari luar diri individu.
Konsep
Penyesuaian Diri
Makna
akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal
yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan
kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak
dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu
menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan
diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang
proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat
terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya
dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua
fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri
lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus
menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi
sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah
memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik
terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
b.
Pertumbuhan Personal
Manusia merupakan makhluk individu.
Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau
menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau
seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya
memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai
kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial
tersebut. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan
tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang
panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami
pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang
sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat
mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah
kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap
individu memiliki naluri yang secara tidak langsung individu dapat
memperhatikan hal-hal yang berada disekitarnya apakah hal itu benar atau
tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki
suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan
akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada
di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan
aturan-aturannya maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian
sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin, begitupun dalam lingkungan
keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka
individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek.
Faktor – faktor yang mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhan individu:
Faktor genetik
Ø Faktor keturunan —
masa konsepsi
Ø Bersifat tetap atau tidak
berubah sepanjang kehidupan
Ø Menentukan beberapa
karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan
fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen.
Ø Potensi genetik yang
bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga
diperoleh hasil akhir yang optimal.
Faktor eksternal / lingkungan
Ø Mempengaruhi individu setiap
hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau
tidaknya potensi bawaan
Ø Faktor eksternal yang cukup
baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik
akan menghambatnya.
Dari semua faktor-faktor di atas
dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan
memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka
terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan
sekitar.
a. Aliran asosiasi
perubahan terhadap seseorang secara
bertahap karena pengaruh dan pengalaman atau empiri (kenyataan) luar, melalui
panca indera yang menimbulkan sensasiton (perasaan) maupun pengalaman mengenai
keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflektion.
b. Psikologi gestalt
pertumbuhan adalah proses perubahan
secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal sesuatu secara keseluruhan,
baru kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan yang ada.
c. Aliran sosiologi
Pertumbuhan adalah proses sosialisasi
yaitu proses perubahan dari sifat yang semula asosial maupun sosial kemudian
tahap demi tahap disosialisasikan. Pertumbuhan individu sangat penting untuk
dijaga dari sejak lahir agar bisa tumbuh menjadi individu yang baik dan berguna
untuk sesamanya.
-
Penekanan
pertumbuhan, penyesuain diri dan pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dariproses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikansebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaanjasmaniah)
yang herediter dalam bentuk proses aktif secaraberkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatifyang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957)bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
- Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.
- Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dariproses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikansebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaanjasmaniah)
yang herediter dalam bentuk proses aktif secaraberkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatifyang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957)bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
- Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.
- Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.
Sumber:
Basuki, Heru.(2008).Psikologi
Umum.Jakarta:Universitas Gunadarma
Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal merupakan suatu hubungan
yang menyatakan ketertarikan positif dengan orang lain (Pychology Themes and
Variations, Wayne Weiten). Ketertarikan itu bukan hanya ketertarikan kepada
pasangan saja, namun juga kepada keluarga, teman, rekan kerja, dll. Kemarin
sempat ada suatu diskusi yang cukup menarik bagi saya pribadi. Ketika kuliah,
kami disuruh menulis tiga orang yang memiliki hubungan yang positif dengan
kita. Salah satu teman saya menuliskan hubungannya dengan Tuhan. Yang menjadi
pertanyaan adalah apakah hubungan dengan Tuhan juga merpakan hubungan
interpersonal. Dari apa yang saya simpulkan, sebagian anak dari kelas saya
menyatakan bahwa hubungan dengan Tuhan juga merupakan hubungan interpersonal.
Ada beberapa hal yang menyebabkan orang lain tertarik satu sama
lainnya, antara lain
1. Ketertarikan secara fisik
Dalam menjalin suatu hubungan interpersonal, sadar atau tidak poin
ini merupakan poin yang pertama. Bayangkan saja, apabila kita bertemu dengan
seseorang, pasti yang menjadi penilaian pertama kali adalah penampilan fisik.
Pengalaman yang saya peroleh juga menunjukan hal yang sama. Ketika saya memilih
seorang pasangan, saya akan melihat apa dan bagaimana cara berpenampilannya,
cara berbicara, cara menatap seseorang, cara bersikap, dll. Ketika point-point
tersebut sudah cukup baik di mata saya, saya akan meresponnya. Tentunya dengan
respon yang positif. Hal yang sama akan dilakukan ketika akan merekrut pegawai
baru dalam suatu perusahaan misalnya. Tidak mungkin orang yang akan bekerja di
perusahaan ternama akan diterima bekerja jika datang dengan pakaian yang
robek-robek di sana sini. Atau mungkin dandan dengan make up yang sangat tebal
seperti orang yang akan konser. Justru orang tersebut mungkin akan langsung di
"black list" atau bahkan langsung diperkenankan keluar dari ruangan.
Faktor ketertarikan secara fisik bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan
orang bisa tertarik satu sama lain. Namun salah satu faktor utama dan yang
pertama ketika orang lain bisa tertarik satu sama lain.
2. Adanya kesamaan
Pernahkah anda merasa tertarik dengan seseorang karena memiliki
barang yang sama, sifat yang sama, style fashion yang sama, tujuan yang sama,
ataupun pekerjaan yang sama? Entah dengan teman, pacar, ataupun rekan kerja?
Jika pernah, berarti anda memiliki ketertarikan dengan orang tersebut karena
adanya kesamaan. Saya memiliki cerita yang unik yang berkaitan dengan adanya
kesamaan. Saya memiliki teman yang saat ini saya anggap sebagai saudara
sendiri. Awalnya kami adalah teman biasa yang menjalani rutinitas seperti
biasa. Jika bertemu kami hanya akan bertegur sapa saja tanpa meluangkan waktu
untuk mengobrol. Suatu saat kami berada dalam kelompok yang sama dalam suatu
mata kuliah. Sejak saat itu kami mulai banyak mengobrol dan berdiskusi. Dan
dari situlah kami mengetahui bahwa kami memiliki minat yang sama dalam
menjalankan suatu usaha. Dari situlah saya memiliki hubungan yang baik
dengannya sehingga saya menganggnya saudara sendiri. Dari pengalaman yang saya
peroleh menunjukan bahwa ketertarikan bisa saja muncul dari adanya kesamaan
antar orang.
3. Efek timbal balik
Ketika seseorang memberikan respon positif kepada kita, maka kita
akan akan membalas respon positif yang sama kepada orang tersebut. Itulah yang
dinamakan efek timbal balik.Dale Carniegie (1936) suggested that people
can gain others’ liking by showering them with praise and
flattery (Pychology Themes and Variations, Wayne Weiten). Maksud dari Dale
Carniegie adalah bahwa seseorang mampu mendapatkan hati orang lain atau dengan
kata lain orang lain juga menyukai kita yaitu dengan memberikannya pujian dan
sanjungan yang menunjukan bahwa kita menyukainya. Kita dapat melihat fenomena
ini pada anak bayi. Ketika seorang pengasuh memberikan perhatian dan dapat
memberikan kenyamanan pada si bayi, maka bayi tersebut akan memiliki kedekatang
khusus dengan pengasuh bayi tersebut. Kebalikannya, jika pengasuh masa bodoh
atau kurang peduli dengan si bayi, maka ada penolakan dari si bayi. Penolakan
tersebut entah tidak mau didekati atau akan menangis jika diasuh oleh pengasuh
tersebut. Contoh yang lain dapat saya kaiatkan dengan pengalaman pribadi saya.
Saya akan menyukai seorang pria yang secara jantan menyatakan bahwa dia suka
dengan saya. Dari situ ada ketertarikan yang secara intens yang saya tujukan
kepadanya.
4. Romantic ideals
Saat membahas mengenai sub bab ini, dapat dijelaskan bahwa seseorang
akan membuat suatu idealisasi mengenai pasangannya. Maksudnya adalah kita
membuat suatu standar dari pasangan kita. Misalnya pacar saya suka memasak,
namun rasanya tidak terlalu enak. Pikiran saya mengidealisasi kemampuan pacar
saya tersebut, bahwa makanannya enak. Ketika nanti saya menikah, saya sudah
memiliki suatu pemikiran bahwa pasangan saya memiliki cita rasa masakan yang
enak, namun pada kenyataanya tidak seenak pemikiran. Tentunya penilaian kita
yang awalnya 100 akan turun menjadi 70 misalnya. Itu akan mencegah suatu
hubungan yang tidak langgeng. Karena kita memiliki suatu idealisasi mengenai
pasangan kita. Jika penilaian kita turun, makan tidak akan terlalu jatuh
drastis penurunannya.
·
Model-model hubungan
interpesonal
1. Model pertukaran sosial
(social exchange model).
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang.
Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.
Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif)
atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi
biaya).
2. Model peranan (role
model).
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini
setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan
akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role
expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role
skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada
kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan
peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara
itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
3. Model permainan (games
people play model).
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini
menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam
permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a) Kepribadian orang
tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima
dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
b) Kepribadian orang
dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c) Kepribadian
anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak
yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
4. Model Interaksional
(interacsional model).
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem .
Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat
model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
·
Memulai Hubungan
Pembentukan kesan dan Ketertarikan Interpersonal dalam memulai
hubungan.
Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :
1. Pembentukan.
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa
peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama,
“fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk
menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali
secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada
kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini
informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat
tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan
dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a) informasi demografis.
b) sikap dan pendapat (tentang
orang atau objek).
c) rencana yang akan datang.
d) kepribadian.
e) perilaku pada masa lalu.
f) orang lain serta,
g) hobi dan minat.
2. Peneguhan Hubungan.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu
berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan
tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor
penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
a) keakraban (pemenuhan
kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b) Kontrol (kesepakatan antara
kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih
dominan didalam komunikasi tersebut).
c) respon yang
tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai
komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu
memberikan feedback yang tepat).
d) nada emosional yang
tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).
·
Intimasi dan
Hubungan Pribadi
Pendapat beberapa ahli mengenai intimasi, di antara lain yaitu :
a) Shadily dan Echols
(1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan
oleh saling percaya dan kekeluargaan.
b) Sullivan (Prager,
1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian
seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
c) Steinberg
(1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan
emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain,
keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih
bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
d) Levinger & Snoek
(Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang
dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya
saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan
dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih
bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan,
pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk
perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung
jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
e) Atwater
(1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu hubungan yang
bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh
persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang
lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi
semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan
pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal
tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling
menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang
lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love,
passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di
dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di
dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan
berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak
merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah
hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun
hubungan yang harmonis dan langgeng.
Komunikasi yang selalu terjaga, kepercayaan, kejujuran dan saling
terbuka pun menjadi modal yang cukup untuk membina hubungan yang harmonis. Maka
jangan kaget apabila komunikasi kita dengan pasangan tidak berjalan dengan
mulus atau selalu terjaga bisa jadi hubungan kita akan terancam bubar atau hancur.
Tentu saja itu akan menyakitkan hati kita dan setiap pasangan di dunia ini pun
tidak pernah menginginkan hal berikut.
·
Intimasi dan
Pertumbuhan
Factor-factor yang menumbuhkan hubungan interpersonal uang baik
berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha
mengendalikan.factor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang
lain.Kejujuran, factor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang
mengurangi sikap defensive dalam komunikasi.amat besar pengaruhnya dalam
menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif.Teori-teori tentang efek
komunikasi yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan
pulahypodermic needle theory, teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki
kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu
apa-apa. Teori peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini
kemudian dicabut pada tahun 1970-an dan meminta kepada para pendukungnya yang
menganggap teori ini tidak ada. Sebab khalayak yang menjadi sasaran media ini
ternyata tidak pasif. Kemudian muncul teori model atau model efek terbatas,
Hovland mengatakan bahwa pesan komunikan efectif dalam menyebarkan informasi,
bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian Cooper dan Jahoda pun menunjukan
bahwa persepsi selektif dapat mengurangi efektifitas sebuah pesan. Contoh :
seorang gadis berjalan lenggak-lenggok seperti pragawati dan banyak pria
terpana padanya sampai-sampai tak berkedip, itu merupakan pola S – R. Proses
ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat menimbulkan efek untuk
mengubah tindakan komunikasi (communication act). Model S – R mengasumsikan
bahwa perilaku individu karena kekuatan stimulus yang dating dari luar dirinya,
bukan atas dasar motif dan sikap yang dimiliki.
Sumber:
Cinta dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan
ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang
mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat
lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia
terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan
kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan
apapun yang diinginkan objek tersebut.
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum
antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu
pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang
biasanya intim dan seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan
upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk
keluarga.
Tergantung budaya setempat bentuk perkawinan bisa berbeda-beda dan
tujuannya bisa berbeda-beda juga. Tapi umumnya perkawinan itu ekslusif dan
mengenal konsep perselingkuhan sebagai pelanggaran terhadap perkawinan.
Perkawinan umumnya dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga. Umumnya
perkawinan harus diresmikan dengan pernikahan.
a.
Bagaimana memilih
Pasangan
Memilih pasangan hidup bukanlah perkara mudah. Pasalnya, banyak
orang yang merasa tidak sreg ketika mereka ditawari untuk memilih suami atau
memilih istri, tak seperti memilih pacar yang bisa dengan mudah dilakukan.
Menurut mereka, pasangan hidup adalah orang yang diajak untuk susah senang bersama,
yang diharapkan hanya akan ada yang pertama dan yang terakhir.Itu sebabnya
memilih pasangan hidup jauh lebih susah dibandingkan dengan memilih pekerjaan
atau tempat sekolah.
Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan
keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka
dari itu harus benar-benar diperhitungkan ketika memilih pasangan yang baik.
Bila ingin pintar, seseorang harus rajin belajar, bila ingin kaya seseorang
harus berhemat, begitu pula tentang pasangan hidup. Bila menginginkan pasangan
hidup yang baik maka kita juga harus baik. Tak ada sesuatu di dunia ini yang
untuk mendapatkannya tidak memerlukan pengorbanan. Segala sesuatu ada harga-nya
termasuk bila ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik. Ya, dimulai dari diri
sendiri. Bila kita bercita-cita untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik,
maka kita sendiri harus baik. Percayalah, Tuhan telah memasangkan manusia
sesuai dengan karakter dan derajat mereka masing-masing. Manusia yang baik hanyalah
untuk manusia yang baik pula, begitu pula sebaliknya.
Banyak orang yang pikirannya terlalu pendek dalam perkara ini
sehingga gagal dalam pernikahannya. Prinsipnya adalah jika kita hanya
berpedoman pada hal-hal yang sifatnya duniawi (kecantikan dan kekayaan) maka
akan sangat sulit dalam menjalani hari-hari berumah tangga nantinya. Karena
semua itu sifatnya hanya sementara dan sangat mudah berubah. Jadi, jika jatuh
cinta hanya karena melihat dari segi kecantikan/ketampanan dan atau kekayaan,
maka cinta tersebut akan sangat mudah berkurang bahkan hilang. Jika kita memang
cinta pada seseorang maka lahirlah ketampanan/kecantikan, bukan sebaliknya.
Berikutnya adalah tentang masalah fisik. Banyak yang berkata bahwa wanita
cantik hanya pantas untuk laki-laki tampan, begitu pula sebaliknya. Dan apa
yang terjadi ketika teman kita yang mungkin tak begitu cantik mendapatkan suami
yang tampan dan juga kaya, maka kita biasanya akan protes. Kita merasa bahwa
dirinya tak pantas dan kitalah yang lebih pantas.
Inilah yang menutupi rezeki kita. Perasaan iri dan dengki menutupi
rezeki kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Orang yang hatinya
dipenuhi penyakit hati biasanya akan memancarkan aura negatif. Sebaliknya,
orang yang hatinya bersih maka aura positiflah yang akan terpancar keluar dari
dalam jiwanya. Tentunya siapa pun pasti akan lebih memilih orang yang memiliki
aura positif daripada negatif.
Lalu, mengingat pernikahan itu adalah sebuah investasi jangka
panjang maka kita juga harus melihat calon pasangan kita dalam jangka panjang.
Bolehlah jika dia saat ini belum sukses, belum kaya, belum pintar, tetapi
ketika ada potensi di masa depan dia akan menjadi lebih baik maka mengapa
tidak??? Daripada kita hanya melihat kondisi dia saat ini tetapi di masa depan
justru punya potensi akan meninggalkan kita. Betapa banyak wanita yang menikah
hanya karena melihat prianya saat ini tampan dan betapa banyak wanita yang
menikah karena hanya melihat wanitanya saat ini cantik. Mereka tidak sadar
bahwa 10 tahun lagi bisa jadi ketampanan/kecantikan tersebut sudah pudar.
Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari satu, tentu
sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik baginya, meskipun pilihan terbaik
baginya tidak selalu identik dengan pilihan yang terbaik bagi umum, karena
seseorang tentu memiliki pertimbangan yang sangat khusus yang tidak dimiliki
oleh orang lain.
Maka, ketika sedang memilih calon pasangan , bukalah mata
lebar-lebar. Lihatlah dia secara utuh. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
tentang dia, terutama kekurangannya. Karena saya yakin, kelebihan dari pasangan
akan dengan mudah kita terima tetapi kekurangan? Tanyakanlah pada diri sendiri,
mumpung belum akad nikah, apakah siap menerima kekurangan-kekurangan tersebut?
Terakhir, lihatlah dia tidak hanya di masa sekarang tetapi juga
potensinya di masa depan. Tahukah kalian bedanya anak-anak dan dewasa?
Anak-anak hanya berfikir apa yang ada sekarang sementara orang dewasa berfikir
lebih jauh ke depan. Pernikahan adalah urusannya orang dewasa maka berfikirlah
dewasa.
b.
Seluk Beluk hubungan
Dalam Perkawinan
Simak dulu pendapat Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang
psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach, dia
mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan.
Hubungan dalam pernikahan bisa berkembang dalam tahapan yang bisa diduga
sebelumnya. Namun perubahan dari satu tahap ke tahap berikut memang tidak
terjadi secara mencolok dan tak memiliki patokan batas waktu yang pasti.
Bisa jadi antara pasangan suami-istri, yang satu dengan yang lain, memiliki
waktu berbeda saat menghadapi dan melalui tahapannya. Namun anda dan pasangan
dapat saling merasakannya.
·
Tahap
pertama : Romantic Love. Saat ini adalah saat Anda dan pasangan
merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu
pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan
bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.
·
Tahap
kedua : Dissapointment or Distress. Masih menurut Dawn, di tahap ini
pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa
pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang
salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan
perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain,
mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan
minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa
pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan
dengan pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan
pasangannya.
·
Tahap
ketiga : Knowledge and Awareness. Dawn mengungkapkan bahwa
pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana
posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi
tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Menurut Dawn juga,
pasangan yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat
kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti
seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.
·
Tahap
keempat : Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba
tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan
untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah
berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam
mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling
menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan
perkawinan yang nyaman dan tentram.
·
Tahap
kelima : Real Love. “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan
keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,”
ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki
oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan perhatian
satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya
sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan
pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love
tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat
Dawn.
Lebih lanjut Dawn menyarankan pula, “Jangan hancurkan hubungan
pernikahan Anda dan pasangan hanya karena merasa tak sesuai atau sulit memahami
pasangan. Anda hanya perlu sabar menjalani dan mengulang tahap perkembangan
dalam pernikahan ini. Jadikanlah kelanggengan pernikahan Anda berdua sebagai
suatu hadiah berharga bagi diri sendiri, pasangan, dan juga anak.
Ketika pasangan (suami/istri) kedapatan beberapa kali bersikap
kurang baik, anggap lah ini sebuah ladang amal sabar. Dan jangan sekali-kali
berfikir bahwa hasil dari istikharah ternyata gagal ketika suatu hari merasa
sedikit kesal mendapati kelakukan pasangan Anda sikapnya kurang baik, harusnya
tetap lah berfikir bahwa dia memang pilihan terbaik yang Alloh pilihkan.
Ketika keadaannya seperti itu tadi, yang menjadi tantangan untuk
Anda lakukan adalah menunjukan sikap yang lebih baik dari dia, agar Anda
menjadi contoh kebaikan untuknya, karena tidak selesai hanya berharap saja dia
harus lebih baik dari Anda, tetapi kita harus melakukan sesuatu untuk menjadi
jalan perubahan untuknya. Karena bisa jadi begini, sekarang memang pasangan
Anda belum baik, tapi yakin lah bahwa suatu saat dia akan lebih baik dari Anda,
kontribusi motivasi dari Anda diperlukan juga untuknya.
Terjadinya sebuah Ikatan tali pernikahan, tidak berarti semuanya
menjadi serba cocok, serba lancar dan jauh dari Masalah. Tidaklah begitu
adanya, ada baiknya kita perlu berfikir begini: "dia bukan aku dan
aku bukan dia, aku adalah aku begitu pun dia! tapi aku adalah bagian dari dia
dan dia bagian dari aku. Karena aku Mencintainya, jadi aku harus bisa
memakluminya dan berusaha untuk terus bersikap baik, lebih baik darinya hingga
sikapku bisa menjadi contoh kebaikan untuknya."
c.
Penyesuaian dan
Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu
ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan
dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan
merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan.
Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana.
Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya
relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga
kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi
yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi
antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam
kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang
harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan,
yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya
mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan
penyesuaian.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan.
Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola
dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
d.
Perceraian dan
Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun
dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali
setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil.
Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam
perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah
yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin
pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat
mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Apa yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai?
Ada banyak faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan
kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor
seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya
ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah
kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya
tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena
kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah
menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru
cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya
tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang
terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda
latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting
untuk diusahakan bersama.
Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang
beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati.
Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan
masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.
e.
Single Life
Paradigma terhadap lajang
cenderung memojokkan. pertanyaannya kapan menikah?? Ganteng-ganteng kok ga
menikah? Apakah Melajang Sebuah Pilihan??
Ada banyak alasan untuk tetap
melajang. Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang
menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang
tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang
memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini
semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga
ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan
untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah
sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang
yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita
melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di
atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai
bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan
yang baik.
Alasan yang paling sering
dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya
dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan
burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta
ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika
mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Banyak perusahaan lebih memilih
karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu.
Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan.
Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.
Banyak pria menempatkan pernikahan
pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan
hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi dan fokus pada pekerjaan,
sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang
lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu
yang lama, dibandingkan karyawan yang telah menikah.
Kemapanan dan kondisi ekonomi pun
menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa kurang percaya diri jika
belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa
senang jika sebelum menikah bisa hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka
bangga memiliki sesuatu yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain
itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak yang mengatakan seorang
masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang
sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur
hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita dengan seorang yang
tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada menikah akhirnya
berakhir dengan perceraian.
Lajang pun lebih mempunyai waktu
untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan
hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara
berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang.
Pelajang biasanya terlihat lebih
muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman yang berusia
sama dengannya, tetapi telah menikah.
Ketika diundang ke pernikahan
kerabat, pelajang biasanya menghindarinya. Kalaupun datang, mereka berusaha
untuk berkumpul dengan para sepupu yang masih melajang dan sesama pelajang. Hal
ini untuk menghindari pertanyaan singkat dan sederhana dari kerabat yang seusia
dengan orangtua mereka. Kapan menikah? Kapan menyusul? Sudah ada calon?
Pertanyaan tersebut, sekalipun sederhana, tetapi sulit untuk dijawab oleh
pelajang.
Seringkali, pelajang juga menjadi
sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh, terutama bila saudara sepupu yang
seumuran telah menikah atau adik sudah mempunyai pacar. Sementara orangtua
menginginkan agar adik tidak melangkahi kakak, agar kakak tidak berat jodoh.
Tidak dapat dipungkuri, sebenarnya
lajang juga mempunyai keinginan untuk menikah, memiliki pasangan untuk berbagi
dalam suka dan duka. Apalagi melihat teman yang seumuran yang telah memiliki
sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Bisa jadi, mereka belum menemukan
pasangan atau jodoh yang cocok di hati. Itulah alasan mereka untuk tetap
menjalani hidup sebagai lajang.
Melajang adalah sebuah sebuah
pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang akan
mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang yang
telah cocok di hati.
Kehidupan melajang bukanlah sebuah
hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan
pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam
suka dan duka serta menghabiskan waktu bersama di hari tua.
Arus modernisasi dan gender
membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi
pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar
dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar,
mendorong perempuan Indonesia untuk hidup sendiri.
Sumber:
Adhim, Mohammad Fauzil
(2002) Indahnya Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar